Mas Ganjar Lari Marathon, Warga Beri Jambu, Ajak Selfie dan Menari

Spread the love

MAGELANG – Seperti tahun-tahun sebelumnya, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo kembali terlibat dalam ajang Borobudur Marathon 2018. Didampingi istri tercintanya, Siti Atikoh, Ganjar turun mengikuti lomba dengan kategori 10 K.

Meski start bersamaan, namun Ganjar dan Siti Atikoh menyentuh garis finish berbeda. Pautan angkanya terpaut cukup jauh.

Hal itu dikarenakan Ganjar tidak bisa fokus berlari. Sebab sepanjang jalan, ia selalu dihentikan warga dan para peserta yang ingin meminta berfoto bersama.

Dengan ramah, Ganjar melayani mereka dengan senyum khasnya. Bahkan di salah satu sudut jalan, ia dihentikan oleh warga yang ingin memberikannya jambu air.
“Pak mandeg sik, tak pekke jambu (pak berhenti dulu, saya ambilkan jambu),” kata pria tersebut.

Mendengar itu, Ganjar langsung berhenti dan melihat pohon jambu milik warga Borobudur itu.
“Yawis penekno, (ya sudah cepat naik),” kata Ganjar dengan gaya ceplas ceplosnya.

Setelah disetujui, pria itu langsung memanjat pohon jambu di depan rumahnya. Jambu air berwarna merah itu langsung dipetik dan dibagi-bagikan kepada Ganjar dan peserta lainnya.

“Saya senang sekali melihat situasi ini, dan saya yakin peserta lainnya juga merasakan hal yang sama. Bagaimana keterlibatan masyarakat dalam event ini sangat tinggi. Ada sentuhan persaudaraan, persatuan dari warga kepada peserta, ini yang terasa betul sangat kuat yang di tempat lain ndak ada,” kata Ganjar.

Selain antusiasme masyarakat, kearifan lokal dan budaya tradisional lanjut Ganjar juga begitu nampak. Dimana banyak anak-anak yang menampilkan kesenian tradisional, salah satunya tari Barongan.

Di pinggir jalan, para penari Barongan dengan semangat menghibur para peserta, tak terkecuali Ganjar Pranowo. Tertarik dengan pertunjukan kesenian tradisional tersebut, Ganjar berhenti sejenak untuk ngevlog.

Bahkan, mantan anggota DPR RI ini juga ikut menari Barongan. Sontak saja, aksi Ganjar itu membuat para pelari semakin bersemangat dan ikut menari.

“Saya senang anak-anak kecil bisa tampil menari tradisional, orang akan merasa disambut meriah. Ini juga ajang promosi yang bagus untuk kesenian tradisional kita kepada dunia,” paparnya.

Terkait kegiatan Borobudur Marathon 2018 ini, Politisi PDI Perjuangan itu mengaku sangat puas. Ke depan, ia akan terus mempromosikan gelaran itu agar menjadi ajang berkelas dunia.

“Kalau bisa menyaingi Tokyo Marathon, Boston Marathon, New York Marathon dan lainnya. Makanya kami akan siapkan di tahun kelima nanti segalanya, termasuk infrastruktur seperti jalan dan penginapan, manajemen transportasi dan dengan suport masyarakat yang menjadi pelengkap,” tutupnya.

Ajang Borobudur Marathon 2018 menjadi contoh suksesnya pengembangan sport tourism di Jawa Tengah. Terbukti, sebanyak 10.000 peserta mengikuti event itu dan membuat hotel-hotel dan homestay di kawasan Borobudur penuh.

Tak hanya olahraga, Borobudur Marathon yang sudah dilehat empat kali ini juga menawarkan konsep wisata. Pemandangan alami pedesaan dengan ikon Candi Borobudur membuat para peserta tertarik mengikuti event tersebut.

Sepanjang rute lari, para peserta dimanjakan dengan pemandangan alam yang indah. Hamparan sawah dan ladang dengan background Candi Borobudur menjadikan peserta gagal fokus untuk terus berlari.

Di beberapa spot, para peserta selalu berhenti untuk berfoto. Mereka tak segan tampil layaknya model untuk mendapatkan gambar terbaik.

“Pemandangannya bagus banget, bikin lelah langsung hilang. Cuma yang kurang tukang fotonya, jadi selama lari sibuk selfie sendiri,” kata Rina Setyowati,35.

Rina mengaku sering mengikuti ajang lomba lari di seluruh Indonesia. Namun, hanya di Borobudur Marathon ini dirinya merasa paling berkesan.

“Ini yang paling berkesan, pemandangannya bagus banget jadi gagal fokus untuk lari, malah sibuk selfie. Lebih banyak selfienya dibanding larinya,” pungkasnya.

Hal senada disampaikan Yunda, peserta lainnya. Dirinya tergoda untuk selfie sepanjang mengikuti ajang lomba lari tersebut.

“Pemandangannya indah banget, jadi tergoda untuk selfie. Kalau biasanya saya ikut lomba lari pemandangannya hanya gedung-gedung, sekarang melewati desa, sawah, hutan yang masih asri. Pokoknya ini keren banget,” terangnya.

Borobudur Marathon 2018 diikuti oleh 10.000 peserta. Tidak hanya dari Indonesia, ratusan peserta dari berbagai dunia juga antusias mengikuti event tersebut. Sepanjang perjalanan, para peserta disambut antusias masyarakat dengan aneka hiburan dan makanan gratis.