Gus Yasin Diminta Perhatikan Janda, Mas Ganjar Malah Yang Degdegan

Spread the love

Pasangan calon Ganjar Pranowo dan Taj Yasin diundang Pengurus Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah untuk memaparkan visi misi, Sabtu (31/3/2018). Acara di Aula Kantor PW Muhammadiyah Jateng di Semarang itu dihadiri 35 pimpinan daerah Muhammadiyah, pimpinan Aisyiah, lembaga pendidikan dan kesehatan Muhammadiyah se Jateng.

Dalam acara bertajuk ‘Taaruf Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jateng’, Ganjar mempersilakan Yasin paparan pertama. Oleh sebab putra KH Maimun Zubair ini harus pamit lebih dulu. Keluarga besar Pondok Pesantren Al Anwar Sarang pada hari yang sama sedang ada hajatan ngunduh mantu di Rembang sehingga Yasin tak bisa menghadiri acara sampai selesai.

Yasin pun memaparkan beberapa program unggulannya, seperti insentif guru madrasah diniyah, TPQ, dan pesantren Rp 331 miliar per tahun. Juga beasiswa untuk para santri penghafal Al Quran atau hafiz dan hafidzah sebesar Rp 1 juta per anak.

Namun ketika Yasin menyelesaikan penjelasannya, pertanyaan pertama justru bukan hal-hal yang ia paparkan. Melainkan soal janda.

Pertanyaan dilontarkan Ketua Pemuda Muhammadiyah Jateng AM Jumai. Menurutnya, dari data BPS jumlah janda di Jateng sebanyak 10 ribu. Artinya angka perceraian tinggi. “Bagaimana mengatasi ini karena dampak perceraian banyak sekali,” katanya.

Ganjar nampak kaget mendengar pertanyaan tersebut. “Pertanyaan pertama langsung marai degdegan,” kata Ganjar.

Namun Yasin justru tenang. Ia mengakui jika angka perceraian di Jateng memang tinggi. Bahkan di Wonogiri perceraian terjadi 18 kali perhari.

Untungnya, menurut Yasin, Pemprov Jateng dan DPRD Jateng sudah menyusun Peraturan Daerah tentang Ketahanan Keluarga. “Saya di Dewan Komisi E kemarin mengusulkan dan menggodok perda tersebut, baru digedok, Insya Allah 2019 sudah bisa dilaksanakan,” katanya.

Perda tersebut, kata suami Nawal Nur Arafah itu, memberi amanat pemerintah provinsi untuk memberi pendampingan pada keluarga rentan. Selain itu juga membuat program pendidikan pranikah dan konsultasi anak muda.

“Dampak perceraian itu besar dari anak, juga budaya, ekonomi keluarga. Maka pendidikan pra nikah ajarkan bagaimana suami isteri saling menghormati dan menghargai,” katanya.

Ganjar menimpali jawaban Gus Yasin. Menurutnya, perceraian kadang terjadi karena pasangan sudah tidak bahagia lagi. “Jadi bapak ibu, jangan lupa bahagia ya,”  katanya setengah bercanda.