13 Tahun Lumpuh, Silihwarni hanya Menangis Dijenguk Ganjar

Spread the love

Jangankan berharap, mimpi untuk bertemu gubernur saja tidak pernah muncul di benak Silihwarni. Lumrah, Silihwarni tidak mampu ke mana-mana kecuali tergolek lemas di atas kasur tanpa ranjang. Telah 13 tahun dia lumpuh.

Bertemu pejabat, terlebih gubernur seperti mengharap hujan di musim kemarau, mustahil bagi warga Desa Buko, Kecamatan Wedung, Kabupaten Demak tersebut. Namun hari itu, Rabu (18/10) di tengah cuaca yang cukup gerah di Kabupaten Demak, Silihwarni merasakan angin segar. Orang nomor satu di Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, tanpa dia harap dan tanpa dia undang tiba-tiba bertandang ke gubugnya.

Tidak percaya. Hanya itu yang ada di benak Silihwarni. “Niki leres Pak Gubernur? (benar ini Pak Gubernur?)” demikian ungkapan yang keluar dari Silihwarni, kalimat tanya yang lebih bermaksud mengungkapkan ketidak percayaannya.

“Nggih pak,” jawab Ganjar tersenyum sambil menggapai tangan Silihwarni.

Yang dipegang tangannya justru tersedu-sedu. Mata Silihwarni berkaca-kaca penuh. “Pripun pak keadaane? (bagaimana pak keadaannya?)” tanya Ganjar.

Sedu sedan Silihwarni justru semakin kencang dan menjawab terbata-bata. “Tiga belas tahun tidak pernah dapat bantuan pemerintah, tapi sekarang pak gubernur ke sini, terimakasih pak,” kata dia.

Sejak kecil Warni tidak tinggal bersama orang tuanya. Ia hidup bersama neneknya. Ketika nenek meninggal, Warni dirawat bibinya, Miharti (49), seorang perempuan dengan pendengaran terganggu. Berbagai cara pengobatan sudah dijalani Warni. Dari media sampai alternatif. Namun belum juga menampakkan hasil.

Keduanya tinggal di gubuk berukuran 2,5 x 5 meter. Itupun pinjaman dari saudara. Demi merawat keponakannya, Miharti rela tidak menikah. Ia bekerja menjadi pembantu di rumah-rumah tetangganya.
Belakangan, sejumlah tetangga berinisiatif urunan untuk membuatkan warung kecil-kecilan. Hasil penjualan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

Kepada Ganjar, Warni (sapaan Silihwarni) bercerita kalau kelumpuhannya akibat kecelakaan lalu lintas 13 tahun lalu. Kedua kakinya tak bisa bergerak, tangan kanan hanya bisa bergerak terbatas. Praktis selama belasan tahun ini ia melakukan seluruh aktifitas keseharian di tempat tidur.

“Jangankan jalan, miring saja tidak bisa sendiri. Makan, mandi, buang air besar ya di sini,” katanya.

Selanjutnya, Silihwarni tidak bisa banyak berkata. Dia menangis. Hanya menangis sambil sesekali mengelus-elus kaki Ganjar yang duduk di sampingnya.

Kepada yang hadir, Ganjar Pranowo mengajak untuk turut gethok tular, mengampanyekan gerakan gotong royong peduli tetangga. Ia meminta jika ada anggota masyarakat yang miskin dan sakit keras agar dilaporkan pada dirinya.

“Coba tengok tetangga kanan kiri masing-masing, siapa tahu ada yang sakit keras, ada yang miskin sekali tidak bekerja. Kalau warga masih bisa membantu ya swadaya dulu, kalau sudah tidak bisa bisa melapor ke saya,” katanya.

Ganjar menceritakan, dirinya sering mendapat laporan orang sakit di suatu daerah. Warga tersebut sudah sakit lama dan tidak mendapat perhatian dari warga sekitar maupun pihak desa atau kelurahan.

“Makanya ayo kepedulian terhadap tetangga terus kita tingkatkan, rasa kemanusiaannya kepeduliannya ditingkatkan,” katanya.

Laporan pada Ganjar bisa dilayangkan melalui twitter @ganjarpranowo, website Lapor Gub, atau via SMS center. Setiap laporan akan ditindaklanjuti oleh petugas tenaga kesejahteraan sosial kecamatan (TKSK) dari Dinas Sosial Pemprov Jateng. Petugas TKSK di Jateng berjumlah 573 dengan satu petugas membawahi satu kecamatan.

Ganjar telah memerintahkan Dinas Sosial memaksimalkan TKSK untuk melayani laporan warga. Mereka harus menjemput warga yang sakit keras untuk dibawa ke rumah sakit. “Langsung sms saya juga bisa. Begitu dapat laporan, maksimal dua jam petugas sudah ke lokasi, kita tangani apakah dikirim bantuan, atau dibawa ke rumah sakit,” katanya.

Silihwarni sendiri langsung dibawa ke RSUP dr Kariadi Semarang. Ganjar meminta ajudannya berkoordinasi dengan pihak rumah sakit agar menangani Silihwarni dengan serius. Saat itu juga ambulance datang untuk membawa pasien ke Semarang.