Tumpeng Merah Putih, Doa untuk Keberagaman Nusantara

Spread the love

SEMARANG – “Siapa rela bergerilya ditandu …. Bertahan untuk Nusa dengan satu paru-paru …. Darimana mereka para kesatria dan putri itu….
Tiji tibeh mati siji mati kabeh, tiji tibeh mukti siji mukti kabeh…
Tapi kini kita asyik main jaran kepang, kesurupan tak bisa pulang”

Pembacaan sajak oleh Sosiawan Leak membuat ribuan hadirin Tumpeng Merah Putih di halaman kantor Gubernur Jateng, Minggu (30/9) tertegun. Rentetan sejarah hingga kondisi kebangsaan terkini dia rangkai dalam sajak berjudul Kodok dan Codot.

“Untuk membangun Indonesia, dari Jawa Tengah sebenarnya sudah cukup. Semua elemen ada di sini. Tapi kita Indonesia, tidak boleh murko (tamak),” kata Leak mengawali acara yang di selenggarakan oleh PWI Jateng.

Ribuan masyarakat yang hadir pada Tumpeng Merah Putih tersebut cukup beragam, antaretnis dan antaragama. Pemuka-pemukanya pun turut hadir, dari KH Mustofa Bisri, Romo Rubyiatmoko, I Nengah Wirta Darmayana dan perwakilan dari klenteng di Semarang.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan acara ini sebenarnya sudah dirancang akan berlangsung meriah. Namun akhirnya dirubah mengingat bencana yang menerjang Palu dan sekitarnya.

“Malam ini menjadi berbeda, tema awal penuh semangat dan gegap gempita, tapi semua harus kita rubah. Karena duka palu duka kita semua. Rasa sedihnya kita ikut nyengkuyung,” katanya.

Dia pun mengajak seluruh masyarakat, Jawa Tengah khususnya untuk siap membantu masyarakat Palu untuk memulihkan keadaan, sebagaimana yang dilakukan saat terjun membantu korban bencana di Lombok.

“Saya kira kita bisa menginspirasi. Ketika saya hadir di Lombok kemarin, saya bahagia ada dua masjid di Semarang yang menyerahkan seluruh infaqnya. Juga banyaknya relawan dari Jawa Tengah,” katanya.

Ganjar meminta agar semua pihak tidak memperkeruh suasana hanya karena perbedaan. Dia pun menyitir bait terakhir sajak Kodok dan Codot karya Sosiawan Leak yang dibacakan sebelumya, “Jangan robek merah putih, jangan ludahi merah putih. Kita harus junjung tinggi.”

“Kita tidak ingin dikoyak-koyak. Pilkada selesai, besok ada pilpres pileg. Hari ini jangan sampai kita bertabrakan bertumbukan hanya untuk kepentingan sesaat. Indonesia yang dibangun dengan darah ini, kita hanya bertugas menjaga. Kalau ada saudara yang ada di palu, datang ke gedung ini, kantor saya di lantai dua. Semoga komunikasi di sana lancar,” katanya.

Sementara itu, iktibar (perumpamaan) dihadirkan Gus Mus untuk kondisi Indonesia saat ini dengan kisah yang dialami Syekh Sari as Saqti, paman sufi ternama, Syekh Junaid al-Baghdadi. Syekh Sari as Saqti, kata Gus Mus, pernah membaca istighfar 30 tahun tanpa henti hanya karena pernah mengucapkan hamdalah.

“Hamdalah tersebut diucapkan Syekh Sari saat kebakaran besar melanda Baghdad, sementara tokonya selamat dari terjangan api. Saat dikabari hal tersebut syekh Sari mengucap hamdalah. Dan setelah itu, selama 30 tahun beliau mengucapkan istighfar,” kata Gus Mus.

Gus Mus mengingatkan karena Palu adalah saudara kita sebangsa, sudah semestinya kita tidak menaruh pesta di atasnya. Dengan melakukan empati maupun simpati, minimal doa.

“Kita dengan Palu iti satu tubuh, jika lukamu berdarah-darah di sini, apa yang bisa kita lakukan? Minimal kita berdoa. Mudah-mudahan yang dipanggil Allah mendapat tempat yang mulia di sisi-Nya, yang ditinggal mendapat ketabahan,” kata Gus Mus, yang kemudian menutup acara dengan pembacaan sajak diiringi sexofon dari Romo Budi dan Dirut Bank Jateng.