Tren Desa-desa di Jawa Tengah, Menangguk Rupiah dari Tepi Sawah

Spread the love

KLATEN – Belasan saung bambu berjajar di antara tiga joglo. Kursi dan tikar yang menghampar di atas rumput gajah mini, dilengkapi dua bajak bekas sepanjang tiga meter menjulur menghadap gapura. Malam itu, cahaya puluhan lampion disempurnakan purnama rembulan. Angin menghempas wajah pemuda-pemuda penghantar sajian di Kafe Kopi Sawah Jomboran Klaten.

Layaknya lintang aleh (bintang jatuh) empat pemuda pramusaji itu berlangkah cepat dari dapur menuju saung-saung mengantar pesanan. Menu andalan kafe ini kopi sawah, soup sawah dan belut goreng. Lathif, Manager Kafe Kopi Sawah mengatakan 85 persen dari menu yang disajikan, bahan-bahannya dibeli langsung dari masyarakat Jomboran.

“Kafe di atas tanah banda desa seluas 0,7 hektare ini adalah Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Omzet perbulan sekitar seratus lima puluh juta selama tujuh bulan ini. Untuk bulan ini dalam setengah bulan omzet sudah tujuh puluh lima juta. Yang masuk desa sebesar 30 persen dari keuntungan bersih,” katanya.

Lahirnya kafe tersebut juga tidak terlepas dari peran Agung Widodo, Kepala Desa Jomboran. Dia menuturkan rentetan kelahiran BUMDes ketiga yang dimiliki desanya itu selain kantin di rumah sakit dan usaha kereta odong-odong. Kata Agung, setelah disepakati lewat Musrenbangdes dan legalisasi melalui Perdes akhirnya diajukan ke Bapermasdes maka dibentuklah kafe dengan total investasi sebesar Rp 450 juta itu.

“Gambaran kasar akan mampu mencapai BEP (Break Even Point) hanya dalam waktu dua tahun,” katanya.

BUMDes memang tengah jadi primadona di Jawa Tengah terlebih setelah ada kucuran dana desa. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan saat ini di wilayahnya terdapat 2511 BUMDes. Padahal sampai akhir 2017 jumlah BUMDes hanya sebanyak 1993.

Suasana Kafe Kopi Sawah. Halaman luas dengan rumput dan cahaya lampion.

Jumlah BUMDes di Jateng tercatat salah satu yang terbanyak di Indonesia. Sebagai contoh di Jawa Timur hanya memiliki 1.424 BUMDes.

Secara kualitas BUMDes di Jateng pun diakui menjadi terbaik Nasional. Ambil contoh BUMDes Desa Karangkandri, Kesugihan, Cilacap dengan usaha PLTU dan BUMDes Tirta Mandiri Klaten yang terkenal akan Umbul Ponggok-nya.

Ganjar berharap setidaknya desa-desa lain bisa mengejar prestasi dari dua BUMDes terbaik itu. Untuk itu dalam periode kepemimpinannya yang kedua ini, Ganjar fokus menggarap pengembangan sumberdaya manusia.

“Lebih utamanya yang berbasis desa. Misalnya pariwisata desa. Kenapa pariwisata? Sektor ini pengungkit yang paling efektif untuk meningkatkan taraf kehidupan. Pendidikan, sosial, kesehatan khususnya perekonomian,” katanya.

BUMDes tersebut menggarap beberapa sektor, dari jasa keuangan, jasa non keuangan, pariwisata, persewaan, perdagangan, pertanian, peternakan, perikanan sampai kerajinan.

Meski sektor yang terbanyak adalah jasa keuangan (659 BUMDes), namun pariwisata tengah menjadi primadona dengan potensi alam Jateng yang kaya dan unik. Saat ini BUMDes pariwisata sedang merambah naik dengan catatan terakhir mencapai 150 unit.

“Karena ini harus dibangun bareng-bareng. Maka saya mendorong para akademisi melakukan pendampingan pada desa-desa. Kalau di Jomboran ini kan memang didampingi akademisi, dulu ada dari UNS dan Profesor dari UGM. Saya yakin ini akan jadi energi luar biasa bagi desa-desa lain di Jawa Tengah,” katanya.