Transformasi Integritas ala Mas Ganjar pada Pegawai Muda

Spread the love

SEMARANG – Mas Ganjar dikenal sebagai pemimpin yang keras terhadap praktik KKN, dari pembongkaran kasus pungli hingga grativikasi melekat padanya. Integritas yang dibangun tersebut oleh Mas Ganjar ditransfer pada jajaran di bawahnya.

Memang, pada era kepemimpinan Mas Ganjar penolakan demi penolakan grativikasi terjadi. Tidak sia-sia, segenap upaya penanaman integritas yang dilakukan Mas Ganjar pada jajarannya mendapat apresiasi luar biasa dari Komisi Pemberantasan Korupsi. Sebanyak tiga kali berturut-turut Jawa Tengah menerima penghargaan dari komisi antirasuah tersebut.

Di aula Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah Jawa Tengah, apa yang selama ini dilakukan Mas Ganjar tersebut ditransfer pada pegawai Pemprov Jateng. Senin (6/8) lalu, pejabat eselon III, eselon IV, lurah dan prajab CPNS Kementerian Hukum dan HAM Kanwil Jateng menerima transformasi reformasi birokrasi ala Mas Ganjar.

Mas Ganjar membuka acara yang bertema Ceramah Jam Pimpinan tersebut dengan melontarkan tanya kepada peserta dari Prajab CPNS Kumham. Apa yang membuat mereka mau bekerja di Kementerian Hukum dan HAM.

“Kenapa mau kerja di Kumham, di LP lagi?,” tanyanya.

Peserta bernama Taufik Setiawan mengungkapkan, bahwa dia ingin membahagiakan kedua orangtuanya. Tujuan berikutnya, ingin menjadi agen perubahan.

Alasan kedua Taufik itu pun memantik keingintahuan Ganjar lebih dalam. Dia pun mengejar dengan memberi pertanyaan, perubahan apa yang hendak diageni laki-laki dari Temanggung itu.

“Perubahan apa kira-kira yang ingin Anda ageni?,” tanyanya seraya menyelidik.

Dengan percaya diri, Taufik yang sudah ditempatkan bertugas di LP Klas IIA Magelang mengatakan, dia menginginkan agar citra pegawai LP yang selama ini dipandang negatif masyarakat, bisa diperbaiki dan kasus di Lapas Sukamiskin, tidak terjadi di Jawa Tengah.

Mendengar jawaban Taufik yang idealis, Ganjar mengatakan, butuh keberanian untuk mewujudkannya. Sebab, ada banyak godaan yang akan menghampiri. Dia mencontohkan napi narkoba yang tidak enggan memberi imbalan mahal kepada sipir yang mau membantunya.

“Narkoba itu bisnis yang menggiurkan. Setiap hari kurang lebih 50 orang meninggal karena narkoba. Duitnya banyak sekali. Sementara take home pay sipir hanya Rp4,8 juta. Contohnya, tolong disimpankan HP saya, setiap saat saya mau pakai, sebulan saya gaji Rp20 juta,” ungkapnya.

Apa yang diceritakannya adalah fakta di lapangan, di mana tidak sedikit aparat yang justru tergiur oleh iming-iming para napi. Karenanya, membangun integritas perlu ditanamkan sejak dini

“Jadi kalau kamu dikasih duit orang, kamu minta uang atau kamu di sogok orang, ingatlah pertanyaan saya hari ini. Karena kamu disumpah. Gusti Allah mboten nate sare,” tandas dia.

Ganjar menambahkan, untuk mengubah negeri ini menjadi lebih baik, memang dibutuhkan orang-orang berintegritas yang berani. Risikonya kadang-kadang memang tidak ringan.

“Dicemooh, dimarahi itu biasa. Mereka marah, kita menjelaskan. Dijelaskan adalah edukasi. Tapi layanan nggak bisa baik, edukasi tidak bisa dilakukan, kalau tidak dilakukan terus menerus. Saya istilahkan kita melubangi batu keras dengan air, maka tetesan itu nggak boleh berhenti,” pesannya.