Tidak Disangka, Begini Reaksi Mas Ganjar saat Ketemu Teman Masa Kecilnya

Spread the love

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memang dikenal sangat akrab dengan warga karena pembawaannya yang riang dan murah senyum. Selain itu, Ganjar juga mudah dikenali, selain karena memang ganteng, juga memiliki ciri khas, yakni rambut putih. Tidak heran jika teman-temannya susah melupakan, sampaipun teman semasa sekolah dasar.

Kamso, misalnya, warga Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar yang menjadi teman SD Ganjar. Ganjar Pranowo menghabiskan masa kecil di desa Tawangmangu, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar.

Pada saat Ganjar Pranowo melakukan kunjungan kerja di Karanganyar beberapa waktu lalu dia menyempatkan diri mengunjungi kediamannya di saat lahir yang terletak di RT 3 RW 2. Tiba-tiba lelaki berkulit hitam memanggilnya. “Lho, kowe Kamso to? Kok tuo men?” kata Ganjar sambil tertawa yang sejurus kemudian langsul melingkarkan tangannya ke pundak Kamso.

Beberapa orang yang melihat pun langsung tertawa melihat keakraban dua sekawan lama itu. Ganjar menceritakan bahwa Kamso itu dulunya teman sebangku semasa sekolah di SDN Tawangmangu 1-2.

Layaknya anak kecil yang bertemu kawannya, mereka kemudian saling mengeluarkan kode-kode permainan dan hanya mereka berdua yang paham. Begitu pula dengan Ganjar dan Kamso, yang langsung beradu cepat memegang kepala dan kaki lawannya. “Ini permainan masa kecil kami, Patangan namanya. Wah, cah iki nakal banget mbiyen,” kata Ganjar sambil tertawa.

“Sama, dia dulu juga nakal banget,” jawa Kamso merujuk ke Ganjar Pranowo yang diikuti tawa orang-orang sekitar.

Kemudian Ganjar berjalan menuju rumahnya dulu. “Saya lahir di sini, ini rumah kontrakan terus saya pindah. Sekarang dibeli kakak,” kata Ganjar saat berkeliling ke sudut-sudut ruangan seperti memunguti berbagai kenangannya di masa kecil.

Puas mengelilingi rumah, Ganjar lantas keluar. Baru beberapa langkah dari pintu, dengan suara lantang tiba-tiba seorang ibu berteriak. “Pak Ganjar, aku Menuk, kancamu SD,” kata Menuk yang sejurus kemudian memamerkan tawa di hadapan Ganjar.

Menurut Menuk, Ganjar Pranowo memang ganteng dan baik dari kecil dan dulu para siswi banyak yang suka dengannya. “Dari kecil memang sudah kelihatan ganteng. Kalau sekolah itu ampir-ampiran soalnya sekolahnya dekat,” kata Menuk.

“Iya terus kalau berangkat sekolah sepatunya dijinjing,” imbuh Ganjar sambil tertawa.

Ganjar kembali melaju sekitar 200 meter menuju rumah di RT 05 RW 2 No 128 Desa Tawangmangu. Rumah yang kini ditinggali keluarga Jumali itu dulunya ditinggali Ganjar dan keluarganya setelah pindah dari rumah kontrakan.

Suasana riang itu tiba-tiba terhenti sejenak ketika Kamso menceritakan nasib anak pertamanya yang harus berhenti sekolah di tingkat SMP. Mata pencaharian sebagai buruh bangunan tidak cukup untuk biaya sekolah.

“Harus sekolah ya, ikut kejar paket saja. Ini bilang pak Bupati. Tak ragati, tak bayari sekolahe,” kata Ganjar.

Sesampainya di rumah, Ganjar mengatakan tidak banyak yang berubah, ia pun menelusuri setiap ruangan dan halaman belakang tempatnya nongkrong melihat pemandangan hutan. Pria kelahiran 28 Oktober 1968 itu juga mengenang sisi luar rumah tempatnya mandi.

Ganjar juga sempat bertemu mbah Kromo (88), wanita yang mengasuhnya sejak kelas 2 SD. Wanita renta itu menatap Ganjar dengan kagum karena anak nakal yang dulu selalu bersamanya sudah menjadi orang nomor satu di Jateng.

“Suka hujan-hujanan, tapi dia anaknya memang pintar. Sudah lama sekali saya tidak ketemu,” kata mbah Kromo.