Terobosan Ganjar Kembali Tuai Pujian Pakar 

Spread the love
SEMARANG – Upaya terobosan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dalam mengatasi dampak Covid-19, mendapatkan pujian dari sosiolog nasional Imam Prasodjo. Di antaranya, program “Jogo Tonggo” (menjaga tetangga), penyaluran bantuan, hingga imbauan agar pembayaran zakat fitrah dilakukan sejak awal Ramadan.
Hal itu tampak dalam dialog “SOS Bansos” yang disiarkan Berita Satu di program Special Dialogue, Kamis (23/4/2020). Acara yang dipandu Direktur Pemberitaan Beritasatu Media Holdings Primus Dorimulu itu menghadirkan narasumber Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, sosiolog Imam Prasodjo, serta pengamat kebijakan publik Agus Pambagio.
Dalam kesempatan tersebut Gubernur Ganjar menyinggung mengenai oembayaran zakat fitrah. Jika biasanya zakat fitrah disalurkan akhir Ramadan, pihaknya bersama MUI, dan Baznas mulai menerima pembayaran dan menyalurkan zakat fitrah mulai awal Ramadan.
“Yang bisa membayar (zakat fitrah), besok dari puasa pertama boleh. Setidaknya sampai tanggal 1 (Mei). Baznas juga membagi di awal,” katanya.
Ganjar menjelaskan, pihaknya memang mempunyai maksud dengan pembayaran zakat di awal. Yakni, agar warga terdampak Covid-19 bisa segera menikmati bantuan.
“Kita ingin membantu mereka yang ibadah di tengah suasana Covid-19,” imbuh orang nomor satu di Jateng ini.
Pihaknya juga telah mengantungi data penerima. Mulai dari kelompok kritis seperti orang lanjut usia, orang tua tunggal, dan lainnya. Para kepala desa juga telah diminta untuk memantau warganya hingga tingkat RW untuk sama-sama menjaga tetangga yang masih kekurangan, yang dia sebut Program “Jogo Tonggo“,
Dalam penyaluran bantuan, jelas Ganjar, pemerintah juga akan menggandeng sejumlah kalangan mulai dari tingkat RW, kader PKK dan lainnya. Hal itu sesuai dengan upaya Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang memang memprioritaskan bantuan sosial (bansos) untuk masyarakat paling miskin. Tujuannya agar pemberian bansos bisa merata sampai ke tangan yang tepat.
Ditambahkan, dalam penyaluran bantuan, pihaknya sudah menyusun dalam tiga lapis (layer), yaitu bantuan dari APBN, bantuan dari provinsi, dan bantuan kabupaten. Dia mencontohkan, ada bantuan dari dana APBD yang langsung ke desa melalui Dana Desa. Ada juga bantuan pangan nontunai (BPNT), Program Keluarga Harapan (PKH), bantuan langsung tunai, dan lainnya.
Di Jateng untuk bantuan PKH jumlah penerimanya mencapai 182 ribu orang. Ada bantuan pangan nontunai dengan total penerima berjumlah 1,1 juta orang, bansos tunai untuk 806.051 orang. Belum lagi, kartu prakerja di mana Jateng mendapat kuota 421.705 orang, meski saat ini baru 100 ribu orang pendaftar. Ada juga Dana Desa dari Kemendes yang angkanya bansos Rp600 ribu, serta berbagai bantuan lain.
“Yang tidak tercatat, tidak memenuhi syarat, datang baru dan sebagainya harus kita selesaikan,” ucapnya.
Sosiolog Imam Prasodjo tak henti-hentinya mengapresiasi langkah Ganjar dalam menangani Covid, termasuk dalam penyaluran bantuan.
Good, very good, Pak Ganjar,” kata Imam.
Dia menilai inisiatif Ganjar dalam membuat terobosan patut diapresiasi. Namun, yang perlu diperhatikan dalam penyaluran bantuan, adalah menggali potensi sosial capital yang belum termanfaatkan. Seperti, jaringan masjid yang jika digerakkan menjadi panitia zakat fitrah sejak sekarang, tentu akan bisa efektif.
“Biasanya mereka punya data siapa fakir miskin, dan siapa yang selama ini yang rentan menerima. Biasanya mereka membahasnya kolektif, seperti RT terlibat, verifikasi dan terbiasa bagi zakat fitrah,” ungkap Imam. (Ak/Ul, Diskominfo Jateng)

2020-04-23 12:45:36

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *