Ternyata, Ganjar pernah kenakan ikat pinggang dari tali rafia

Spread the love

Pernah mengenakan celana yang terlalu besar alias kedodoran? Jika iya, ikat pinggang tentu menjadi pilihan utama dalam kondisi mendesak agar celana bisa nyaman dikenakan. Tapi jika tidak ada ikat pinggang yang bisa dipakai apa yang harus dilakukan?

Mungkin kisah Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo terkait hal ini bisa menjadi inspirasi bagi yang sedang kepepet. Karena ternyata, seorang Ganjar Pranowo yang adalah pejabat seorang publik memiliki ide yang tak disangka-sangka, yakni mengganti ikat pingang dengan tali rafia. Padahal bagi orang yang perfeksionis, tentu hal ini tak mau terjadi dan akan mencari berbagai cara untuk bisa mendapatkan ikat pinggang yang layak.

Tapi bagi Ganjar, karena saat itu tengah mendesak dan adanya hanya tali rafia ya apa boleh buat. Ia tetap memakainya, meski tentu tidak ada orang yang tahu jika gubernurnya menggunakan ikat pinggang dari tali rafia.

Kisah Ganjar mengenakan ikat pinggang dari tali rafia ini disajikan pada sebuah cerita dengan judul “Hahaha… Gubernur Pakai Sabuk Rafia” di sebuah buku berjudul “Gubernur Jelata” karya Agus Becak yang telah diluncurkan akhir tahun lalu.

Cerita tentang rafia ini memang sudah terjadi cukup lama. Namun tetap bikin senyum-senyum jika membaca tentang kisah ini, terlebih lagi yang menggunakan ikat pinggang dari tali rafia itu adalah seorang gubernur, orang nomor satu di Jawa Tengah. Ternyata bisa juga gubernur pakai tali rafia sebagai pengganti ikat pinggang.

Cerita ini terjadi pada hari Jumat, saat setiap pagi seluruh pegawai Pemprov Jateng melakukan olahraga bersama di depan kantor gubernuran. Sebab itu, pada hari Jumat biasanya Ganjar berangkat ke kantor sudah lengkap mengenakan pakaian olahraga dan mengendarai sepeda. Namun, di hari itu ia tidak menyadari bahwa usai olahraga harus segera menjadi pemimpin upacara.

Sayangnya lagi, pakaian untuk dikenakan saat upacara belum disiapkan ajudan. Di ruang pribadinya hanya ada satu celana Pakaian Dinas Lapangan (PDL) yang ternyata cukup kebesaran kalau dipakai. Dalam suasana mendesak itu, Ganjar tetap tenang dan tidak marah dengan ajudan. Meski sang ajudan pun tentu ketar ketir bakal kena semprot sang gubernur.

Tak kurang akal, Ganjar tetap mengenakan celana itu dengan ikat pinggang berupa rafia. Hal ini dilakukan agar celananya tidak melorot. Dan celana PDL itu dipadukan dengan batik, tidak nyambung memang tapi seorang Ganjar tampak cuek saja. “Tidak ada yang tahu kan kalau saya paki tali rafia?,” kelakarnya dengan sang ajudan. Kejadian itu memang hanya diketahui oleh sang ajudan yang kemudian diceritakan pada penulis buku.

Banyak hal-hal menarik tentang sosok Ganjar yang apa adanya dan sederhana yang diceritakan dalam buku tersebut. Agus Becak sang penulis menuliskan jargon “kegagahan dalam kemiskinan” rasanya tidaklah berlebihan jika dianalogikan dengan apa yang dilakukan Ganjar dalam kepemimpinannya.
“Dalam kesederhanaan Ganjar terkandung gagasan-gagasan besar untuk sebuah perubahan, dalam kepemimpinannya Ganjar tidak berusaha mengambil jarak dengan rakyatnya. Hal yang sering dilakukan pemimpin sebelumnya,” tulis Agus.

Hingga kini, sikap Ganjar yang apa adanya itu tidaklah berubah meski ia adalah seorang pejabat publik. Hal itu diketahui dari kesehariannya yang memang dekat dengan rakyat, masih dekat dengan sahabat-sahabat lamanya dan tentu keluarganya. Banyak sahabat Ganjar yang juga mengungkapkan bahwa sosok Ganjar yang sederhana dan berkharisma tidak berubah sejak sebelum menjadi politisi atau pejabat publik.