Sumringahnya Mas Ganjar Intip Dapur Warga Ini yang Manfaatkan Gas Rawa

Spread the love

Sudah dua bulan terakhir 22 kepala keluarga di Desa Rajek Kecamatan Godong Kabupaten Grobogan memutuskan untuk meninggalkan gas elpiji. Mereka kini memanfaatkan salah satu kekayaan alam di wilayahnya, gas rawa sebagai sumber perapian.

Imanah, salah satu warga mengatakan bahwa keberadaan energi di desanya tersebut telah terendus sejak puluhan tahun silam. Namun tidak satu pun warga yang berani dan tahu cara memanfaatkannya.

“Kalau gas di sini memang sudah lama, sejak saya kecil, tapi baru kali ini dimanfaatkan dan bisa digunakan untuk memasak. Takut risiko, karena mudah terbakar. Jadi tidak ada warga yang memanfaatkan,” kata dia saat Gubernur Jawa Tengah menilik dapur rumahnya yang telah tersalur dengan gas rawa, Rabu (29/11).

Akhirnya ketakutan warga sirna setelah menyadari bahwa sumber energi di desanya bisa diolah kemudian disalurkan ke rumah warga. Imanah mengaku, pengolahan tersebut berasal dari bantuan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.

“Lumayan bisa irit, karena tidak lagi memakai gas elpiji. Kalau dulu harus beli Rp 20 ribu, sekarang gratis,” kata dia sambil tersenyum bahagia.

Imanah menjelaskan bahwa kualitas gas rawa tidak jauh berbeda dengan gas elpiji. Warna api, kata Imanah, sama dengan api yang dihasilkan gas elpiji, tetap biru sehingga kualitas perapiannya sama baik.

Pengolahan gas rawa di Desa Rajek tersebut diambil dengan cara mengebor tanah dengan kedalaman 50 meter. Kemudian, gas yang bercampur air tersebut dipisahkan menggunakan dua tabung berbeda, satu untuk menampung air dan satunya lagi untuk menampung gas. Dari tabung berisi gas itulah kemudian disalurkan ke rumah-rumah warga secara gratis.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang menengok langsung proses penyaluran tersebut nampak takjub. Dirinya berkeyakinan seperti itulah kedaulatan energi yang semestinya, dimanfaatkan langsung oleh masyarakat.

“Karena potensinya yang sangat bagus. Teknologi seperti ini kemungkinan baru pertama di Indonesia, atau bahkan dunia. Ini bisa bertahan sampai 100 tahun,” kata dia, yang ternyata sudah memerintahkan Dinas ESDM untuk terus melakukan pengkajian.

Kajian tersebut, kata Ganjar, apakah memungkinkan gas rawa dikompres ke dalam tabung? Jika bisa, maka hal tersebut bisa menjadi kunci berdirinya BUMDes sebagai sumber kemakmuran desa. “Maka desa akan punya BUMDes perusahaan gas yang akan memberi pemasukan keuangan desa. Jadi kalau ada yang rusak tidak perlu mengadu ke bupati, karena mampu menangani sendiri,” kata dia.