Sineas Muda Jogja Filmkan Novel Masa Kecil Ganjar Pranowo

Spread the love

Novel biografi Ganjar Pranowo ‘Anak Negeri’ tidak berhenti hanya sebagai bacaan. Sejumlah sineas muda Yogyakarta menggarapnya menjadi film yang akan diputar di seluruh Jawa Tengah.

Diproduksi sekitar 1,5 bulan, film yang berjudul sama dengan novelnya ini sekarang sudah hampir selesai. Ganjar yang kebetulan berada di Jogja pada Rabu (13/3/2018) lalu sekaligus diambil gambarnya untuk memberi penekanan cerita pada masing-masing chapter.

“Jadi film ini kami buat per chapter, total ada 10 chapter, masing-masing mengisahkan dari masa kecil pak Ganjar SD di Tawangmangu, pindah ke Kutoarjo sampai lulus kuliah di Yogya,” kata Andika Prabhangkara, produser film Anak Negeri.

Pada tiap chapter film ini berdurasi sekitar 10 menit. Film akan ditayangkan per chapter lebih dulu di media sosial Youtube. “Ya niatnya bikin semacam web series,” tukas Mirwan Arfah, sang sutradara.

Versi Youtube akan mulai diluncurkan dalam waktu dekat. Sedangkan versi utuh yang menggabungkan seluruh chapter akan diputar sebulan ke depan di sejumlah daerah di Jateng dengan menyasar wilayah pinggiran. “10 chapter kalau ditotal ada 100 – 120 menit, sudah seperti film utuh. Kami punya pop cinema, mungkin kayak layar tancap tapi formatnya digital semua jadi kualitas gambarnya bisa maksimal,” katanya.

Andika menceritakan, niatan membuat film muncul ketika dirinya dan beberapa kawan menghadiri peluncuran buku Anak Negeri di Boyolali. Setelah membaca buku tersebut, menurutnya cerita dan pesan moralnya sangat kuat untuk menginspirasi anak bangsa.

Awalnya pihaknya ingin membuat film format layar lebar. Namun karena keterbatasan waktu dan dana, akhirnya diputuskan web series yang dipilih.

Waktu yang singkat membuat Andika Cs bekerja nyaris tanpa istirahat. Untuk meminimalkan biaya, lokasi pengambilan gambar dipilih di Sleman. Terutama di sekitar Turi, Pakem, dan Ngaglik.

Sedangkan para pemeran utama sekitar 10 orang dan figuran sekitar 25 orang berasal dari komunitas teater Yogyakarta.

Mirwan mengakui pihaknya sedikit berkompromi dengan detil. “Beberapa detil tidak mampu kami kejar, pemeran pak Ganjar misalnya mungkin tidak mirip, kondisi rumah masa kecil, seragam dan lain-lain. Kami mengejar substansi dan konten dulu karena lagi-lagi waktunya pendek,”  ujarnya.

Andika berharap, film tersebut bisa memberikan gambaran pada masyarakat bagaimana perjuangan Ganjar sejak kecil hingga menjadi salah satu pemimpin muda potensial negeri ini.

Ganjar yang ditemui di sela pengambilan gambar mengatakan, kisah masa kecilnya sebenarnya biasa saja. Menurutnya semua anak yang lahir di desa seperti dirinya akan mengalami kesulitan yang sama.

“Saya merasanya biasa saja, tapi teman-teman ini berhasil menggali data dan membuat cerita jadi luar biasa. Mudah-mudahan film dan novel ini bermanfaat dan menginspirasi,” katanya.