Sering Main Ketoprak, Mas Ganjar: Jangan Cuma Bilang Nguri-uri, Tapi Aksi

Spread the love

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo punya banyak julukan. Di antaranya gubernur twitter, senopati tembakau, gubernur gowes, dan bapak jaran kepang. Namun kini ia punya julukan baru: gubernur ketoprak.

Gubernur twitter muncul karena aktivitasnya melayani pengaduan masyarakat lewat media sosial. Senopati tembakau adalah julukan yang disematkan para petani tembakau oleh karena kegigihan Ganjar membela penanam emas hijau itu. Gubernur gowes jadi trademark karena kegilaannya bersepeda ratusan kilometer. Sementara bapak jaran kepang dihadiahkan oleh para seniman kuda lumping Temanggung.

Nah, untuk yang satu ini belum banyak masyarakat yang sadar bahwa Ganjar sangat aktif bermain ketoprak. Padahal sejak menjabat gubernur, pria berambut putih tersebut telah puluhan kali manggung. Terakhir ia bermain di Alun-alun Kabupaten Pati pada Jumat 24 November 2017 lalu. Dalam pagelaran ketoprak Projo Budoyo yang mengambil lakon “Sumilaking Pedhut ing Bumi Mataram” tersebut, Ganjar mengambil peran sebagai Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram.

Selain bersama Bupati Pati Haryanto, sejumlah bintang tamu juga turut manggung. Di antaranya Yati Pesek, Gareng Semarang, dan Ki Dalang Warseno Slank. Tidak kurang dari seribu penonton dibuat tak berkutik karena terpukau penampilan mereka di atas panggung meski di bawah guyuran hujan.

Dua puluh hari sebelumnya atau 3 November Ganjar berperan sebagai Sang Hyang Wenang dalam ketoprak dengan lakon ‘Semar Mbangun Kahyangan’ di Auditorium Imam Bardjo, Kampus Pleburan Undip.

Pada bulan Agustus, Ganjar setidaknya dua kali manggung. Pertama pada peringatan hari jadi Klaten, ia main sebagai Dharmadyaksa dalam lakon Amukti Palapa. Kemudian pada pesta rakyat Hari Jadi Pemprov Jateng di Jepara, Ganjar memerankan Adipati Cirebon bernama Pangeran Dirgonegoro. Pada lakon ‘Banjaran Haryo Penangsang’di kawasan parkir Alun-alun Jepara itu Ganjar sukses memantik tawa penonton berkat selendangnya yang melorot.

Selendang Ganjar melorot dan hampir terlepas ketika ia mencoba menarik keris dari pinggulnya. “Pak, selendange melotrok niku lho (Pak, itu selendangnya melorot),” teriak salah satu penonton diiringi tawa sejumlah penonton lainnya.

Entah disengaja atau tidak, dalam setiap pentas, tingkah Ganjar memang sering memicu tawa penonton. Ketika pertama kali bermain bersama Ganjar, Yati Pesek bahkan mengaku terkejut dengan keluwesan gubernur Jateng itu bermain ketoprak. “Pak Ganjar bisa ngelawak, saya malah kalah lucu,” katanya usai bermain bersama di Taman Budaya Raden Saleh Semarang tahun 2015 silam.

Yati mengungkapkan rasa bangganya melihat Ganjar begitu aktif dan peduli pada seni tradisi. “Saya bangga sekali. Kalau ada 10 pemimpin daerah atau gubernur, seperti pak Ganjar, seni budaya kita akan semakin sukses,” katanya.

Menurut Yati, di tengah-tengah kesibukan sebagai Gubernur Jawa Tengah, Ganjar masih menyempatkan waktu menghibur, bermain ketoprak bersama para seniman. “Kalau bukan priyayi yang peduli seni budaya, beliau tidak mungkin berada di sini malam ini,” imbuh Yati.

Ganjar mengatakan, bermain ketoprak sesungguhnya lebih sulit dari yang dilihat orang. Ia sendiri awalnya grogi karena harus menghafalkan sekian banyak dialog. Namun setelah sekian kali berpentas, sekarang ia cukup menghafal alur cerita kemudian improvisasi di panggung.

Menurut Ganjar, selain karena suka, keaktifannya bermain ketoprak sebagai aksi nyata kepedulian pada kesenian tradisi. “Jadi pemimpin jangan cuma ngomong nguri-uri kebudayaan, tapi aksi, ini sepele tapi yo angel (susah). Harapannya mereka dan generasi muda bisa nguri-uri (melestarikan) budaya,” katanya.

Selain itu seni tradisi adalah sarana bagus untuk menyelipkan pesan moral dan kebajikan pada masyarakat. Ia mencontohkan saat bermain ketoprak di Gedung Kesenian Jakarta tahun lalu. Saat itu ia berperan sebagai Raja Hayam Wuruk yang sedang berjuang menyatukan kembali Majapahit setelah diserbu pasukan dari Tiongkok.

Cerita berintikan pesan bahwa seluruh lapisan masyarakat harus bersatu padu demi keberhasilan pembangunan.”Di ending cerita kita menyampaikan bahwa ternyata kita tetap bisa bersatu untuk itu untuk menegakkan harga diri Majapahit. Maka masing-masing dari kita bisa ikut kontribusi dalam menyelesaikan masalah bangsa dan Negara. Kalau ini bisa kita sinergikan, kita lepaskan baju kelompok dan partai politik demi persatuan,“ tegasnya.