Saat Mas Ganjar Terkesan Cara Seniman Lontar Kritikan

Spread the love

YOGYAKARTA – Tak ada satupun yang tersinggung lantas meluapkan amarah saat Butet Kartaredjasa mengatakan, “kalau kau sibuk mencela orang lain saja, kapan kau sempat membuktikan cela-celanya?” Atau bahkan ketika Sri Kreshna mendendangkan syair lagunya, “su asu asu asu asuan, sengkuni suka mengadu domba, banyak pejabat main korupsi, mereka melawan hukum dengan tertawa.

Kesenian memang punya cara tersendiri untuk menyampaikan realitas, baik sosial, politik sampai bernegara. Sekeras atau bahkan sekasar apapun kritik, jika disampaikan lewat kesenian hasilnya akan indah dan membuat orang bahagia. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan, jangan-jangan bangsa dan negara ini akan lebih ayem jika kebudayaan dijadikan sebagai panglima.

“Sebenarnya kesenian dan kebudayaan itu lebih manusiawi, orang berbicara bahkan dengan kalimat diksi paling keraspun orang tidak tersinggung karena orang merasa senang merasa bahagia. Maka ketika Gus Mus mengatakan, jangan-jangan kebudayaan sebagai panglima itu akan bisa menyelesaikan banyak persoalan. Karena kita multi etnis Mukti culture saling menghormati,” kata Ganjar, Kamis (7/3).

Meski beberapa kali mengungkapkan Kebudayaan sebagai Panglima, kali ini Ganjar dibuat langsung berkesan dengan cara-cara seniman berkata dan melontarkan kritik saat menghadiri Konser Kidung Nusantara Sri Kreshna Celeng Degleng di Taman Budaya Yogyakarta. Maklum, kritik sosial dan politik mendominasi lirik delapan lagu yang dinyanyikan Sri Kreshna.

“Apakah tadi ketika semua nyanyi ada yang marah? Meski yang dinyanyikan asu-asuan, celeng Degleng, ada yang marah? Tidak ada kan? Sekasar itupun tidak ada yang marah. Karena mereka merasakan suasana damai, bersatu, bahagia dan tidak ada olok-olok,” katanya.

Selain Ganjar, seniman-seniman ternama tanah air, khususnya yang dari Yogyakarta juga turut menghadiri konser tersebut. Dari Ong Hok Djien, Djoko Pekik, Bagus Mazasupa, Ong Hari Wahyu hingga Butet Kartaredjasa. Dari sekian nama itu, hanya Butet yang diberi kesempatan unjuk kemampuan. Diapun membacakan puisi karya Gus Mus yang berjudul Kalau Kau Sibuk, Kapan Kau Sempat?”

Sri Kreshna adalah musisi Yogyakarta. Berambut gimbal, tampilannya slengean dan liriknya tidak jarang membuat telinga memerah. Selain itu, dia kawannya Ganjar semasa kuliah di Universitas Gajahmada .

“Kita sama-sama orang yang dulu suka naik gunung di tempatnya Mbah Maridjan, bahkan waktu itu masih Mbah Argo, bapaknya Mbah Maridjan. Kita biasanya bertemu setiap weekend. Dia kenakalannya mahasiswa seusia itu dengan gayanya dan selalu bernyanyi. Dulu dia pernah punya grup, Balai Bengong, beberapakali pernah tampil dan sempat saya undang di kamapala. Dari sekian banyak temannya dia yang konsisten.,” Katanya.

Ajang pertunjukan dari seniman memang jadi salah satu jujugan berkumpul. Ketika para seniman sudah berkumpul, bukan barang asing lagi kalimat-kalimat sindiran terlontar dengan enteng namun diterima dengan enteng pula. Seperti yang dilontarkan Butet kartaredjasa pada Sri Krishna.

“Ini semacam syukuran orang Wonogiri bisa konser di sini (TBY). Insyaallah akan berubah nasibnya setelah ini. Saya pernah jadi bagian dari salah satu lagu yaitu Menolak Lupa 2014 ketika mbak Suciwati ingin membangun museum Munir dan yang menulis lirik adalah Hari Wahyu Ong,” kata Butet.

Dalam konser tersebut, Sri Krishna melibatkan PSM universitas Gajahmada, Laras suara, oscar, Adi Bimo, Didi Ardiansyah, vengki, syakaf, Rendi Indrianto, Taufan Dwi, pemain Selo, Supanggah dan Bagus Mazasupa sebagai Musik Directory. Melihat rekan-rekannya sesama seniman mengapresiasi karyanya dia merasa gembira, terlebih dengan kehadiran Ganjar Pranowo.

“Kita kenal remaja, beliau cerdas. Kalau nakal ya remaja ya nakal. Nakalnya remaja. Saya bangga, saya seniman gimbal bisa dekat dengan mas Ganjar,” katanya.