Saat Mas Ganjar Menginap di Desa Lokasi Bencana Banjarnegara

Spread the love

“Maka saya sampaikan masyarakat jangan melampaui garis. Untuk logistik sudah cukup. Sekarang kita siapkan relokasi, tanah sudah disiapkan dan harus cepat dari sisi administrasi,”

Bencana tanah bergerak di Banjarnegara menghancurkan puluhan rumah. Peristiwa itu mendapatkan perhatian khusus Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Bahkan, Ganjar menginap di desa lokasi bencana untuk hadir menenangkan warga yang mengungsi.

Ganjar tiba di Dusun Pramen, Desa Bantar, Kecamatan Wanayasa, Banjarnegara pada Senin (15/1/2018) pukul 23.30 atau hampir tengah malam. Ia menginap di rumah salah satu warga setempat. Pagi harinya ia meninjau lokasi tanah bergerak yang membuat belasan rumah rusak bahkan ada yang sampai rata dengan tanah.

Bersama Bupati Banjarnegara Budhi Sarwono dan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah Sarwa Pramana serta beberapa pejabat provinsi, Ganjar meninjau satu persatu rumah yang rusak. Wilayah yang menjadi pengungsian warga juga dikunjungi.

Kepada warga, Ganjar menyampaikan duka atas peristiwa itu. “Yang penting sekarang kesehatan dulu dijaga, kalau makanan dan logistik lain insyaallah tidak kekurangan nggih, nanti rumahnya dipindah di lokasi yang aman,” katanya.

Gubernur berambut putih itu juga menyempatkan mampir di Taman Kanak Kanak Siti Masithah PGRI Bantar yang dekat dengan lokasi bencana. Ia mengajak beberapa anak bernyanyi diiringi tepukan tangan guru dan orang tua.

Bupati Budhi Sarwono mengucapkan terimakasih atas perhatian gubernur. Tidak hanya karena mengunjungi rakyatnya yang terkena bencana, tapi juga bantuan logistik dan pembangunan infrastruktur yang rusak dari dana penanggulangan bencana.

Longsor dan tanah bergerak di Dusun Pramen membuat 14 rumah rusak. Jalan desa sepanjang 400an meter anjlok sehingga mengakibatkan dua dusun, Sikenong dan Suwidak, terisolir. Data di posko Desa Bantar mencatat 115 kepala keluarga dengan total 398 jiwa terdampak.

Menurut Ganjar, Badan Geologi sudah memasang tanda yang memisahkan daerah aman dan bahaya. “Maka saya sampaikan masyarakat jangan melampaui garis. Untuk logistik sudah cukup. Sekarang kita siapkan relokasi, tanah sudah disiapkan dan harus cepat dari sisi administrasi,” katanya.

Untuk percepatan pembangunan perumahan relokasi, Pemprov akan bekerjasama dengan Pemkab Banjarnegara  sebagai penyedia tanah. “Tanahnya nanti diurus dari kabupaten, bangun rumahnya dari saya. Per rumah sekitar 25 juta, kita carikan relawan yang bantu bangun dan arsitek yang bagus sehingga bangunannya tahan gempa,” jelasnya.

Sarwa Pramana menambahkan, Pemprov Jateng menyalurkan bantuan senilai Ro 132 juta. ” Yang 32 juta untuk pipanisasi dusun terisolir, 100 juta untuk operasional penanganan bencana,” katanya.