Rayuan-rayuan Mas Ganjar pada Istri Sebelum Beli Motor Bekas

Spread the love

Meski sempat ditentang istri, dia tetap nekat membeli sepeda motor. Bersepeda yang telah jadi hobinya belum bisa membuatnya puas sebagai seorang gubernur. Kini dengan motor bekas yang dia beli, Ganjar Pranowo telah keliling ke berbagai daerah di Jawa Tengah.

Dalam sebuah perbincangan di kafe kecil Kita Semarang dengan sesekali nyeruput leci tea, gubernur berambut putih itu membuat semacam pengakuan, tidaklah mudah mewujudkan keinginannya untuk membeli sepeda motor. Istrinya yang terlanjur cinta mati bersepeda mesti dia luluhkan.

“Karena sebenarnya dia kurang suka, kurang setuju kalau saya motoran. Bayangannya jauh, jadi dia khawatir. Ya akhirnya ngrayu pelan-pelan,” kata Ganjar.

Bukan seperti rayuan remaja yang mengandalkan kata-kata, cara yang dia pilih untuk merayu Siti Atikoh agar diizinkan beli motor adalah mengajaknya menggali kenangan dengan mengajaknya naik sepeda motor pinjaman. Momen pertama Siti Atikoh diboncengkan Ganjar naik sepeda motor pinjaman terjadi di Pemalang. Saat itu dia mengendarai Vespa merah keliling kota pada Agustus 2018 silam.

“Momen kedua naik motor pinjaman milik salah satu staf Puri Gedeh sekitar bulan Maret lalu. Tak ajak keliling sekitar Puri,” katanya.

Dari dua momen dengan tenggat waktu lama itulah yang membuat Ganjar yakin sang istri bakal mengizinkan. Atau mungkin, kata Ganjar, memori kenangan tahun-tahun awal pernikahan muncul di benak sang istri. Motoran berdua dari Kutoarjo ke Purbalingga mengendarai motor Astrea Honda dengan laju paling kencang 60 Km perjam.

“Kehujanan bareng, kepanasan bareng kena asap knalpot bareng. Karena sudah lama tidak motoran berdua, mungkin istriku langsung teringat kenangan itu. Saat dia memeluk dari belakang atau saat dia pegangan kencang saat saya menarik gas. Ya sesekali nanti mengenang masa-masa itu keliling motoran bareng istri,” katanya.

Terlebih niatan Ganjar beli motor bekas juga bukan sekadar memenuhi hobi, namun pertimbangan efektivitas serta aksesibilitas kerja. Dengan mengendarai motor, kata Ganjar, pergerakan jadi lebih cepat, jangkauan semakin luas karena bisa menelusup ke daerah-daerah pinggiran. Dan yang paling utama dia membawa misi Wisata Hati.

“Wisata hati ini gerakan membantu lansia-lansia terlantar, anak yatim serta saudara-saudara kurang mampu. Wisata Hati ini dikuti oleh Grup Montoran Bandiyem yang kemarin saya bentuk itu,” katanya.

Mengetahui istrinya telah luluh, Ganjar diam-diam berburu motor. Bukan di dealer namun di media sosial. Dia pun memanfaatkan kemampuan staf dan anggota Patwal Gubernur yang tahu detail seluk beluk sepeda motor. Terlebih motor yang dia inginkan dengan CC besar. Bripka Benny Wahyutomo, anggota Patwal Gubernur yang mengetahui selera Ganjar langsung menyodorkan motor intaiannya, Kawasaki ER-6N.

“Bapak merasa cocok model dan warnanya. Begitu bapak ACC saya langsung meluncur Klaten untuk transaksi,” katanya.

Begitu tiba di Semarang, Benny langsung membawa motor tersebut ke bengkel untuk mengecek kelaikan. Setelah semua dipastikan kelaikannya, tak butuh waktu untuk Ganjar menggeber gas, tepatnya pada 8 April silam untuk keliling Cilacap, Purwokerto, Purbalingga dan Banjarnegara. Bagi Benny, pengawalan menggunakan motor lebih luwes dibanding ketika mengendarai mobil. Terlebih ayam Zinedine Alam itu menerapkan protap, wajib taat lalu lintas.

“Ketika lampu merah ya berhenti. Dan justru di situlah pengalaman-pengalaman menarik sering terjadi. Diajak selfie, diajak salaman, disapa. Pernah ada yang nekat pengendara mepet Pak Ganjar di jalan untuk minta foto, saya tidak boleh menghentikan, tapi bapak lah yang minggir menuruti keinginan warga itu,” katanya.

Keluwesan Ganjar itulah yang membuat Benny tidak mengkhawatirkan saat mengawal rangkaian Grup Montoran Bandiyem touring. “Pak Ganjar selalu menekankan keselamatan yang utama. Kalau capai istirahat, dengar adzan istirahat salat. Kalau lapar berhenti nyari warung, makan bareng. Makanya pun sederhana, ibarat kata adanya mie goreng ya sudah makan itu bareng-bareng,” katanya.