Pakar Ekonomi: Ganjar Sudah pada Trek yang Benar

Spread the love

Empat tahun lebih memimpin Jawa Tengah, Gubernur Ganjar Pranowo dinilai sudah pada trek yang benar. Ketegasan dan keberhasilan Ganjar telah membuat provinsi ini sedikit demi sedikit mampu
mengejar ketertinggalannya dari provinsi tetangga.

Beberapa program Ganjar juga telah dinilai berhasil oleh pemerintah pusat bahkan diadopsi menjadi program Nasional. Di antaranya pengendalian inflasi dengan aplikasi Sihati, kartu tani, kredit bunga rendah, SMK Jateng, dan pengendalian pungli serta gratifikasi.

Menurut Guru Besar Ekonomi Universitas Diponegoro FX Sugiyanto, kebijakan yang berhasil baik di daerah sudah selayaknya diadopsi Nasional. Terlebih jika efek dominonya bagus untuk masyarakat  luas. Ia menyontohkan kredit bunga rendah Kredit Mitra 25 dan Mitra 02 Bank Jateng. Saat ini kredit bunga rendah menjadi tren Indonesia.

”Memang seharusnya didorong karena bagaimanapun suku bunga menjadi faktor penting untuk menarik investasi,” katanya.

Apalagi, kredit usaha kecil memang harus dikembangkan karena kebutuhan akses pembiyaan untuk UMKM sangat tinggi. Sebagai contoh, dari 4,17 juta usaha di Jateng, 98 persen di antaranya adalah usaha kecil. “Karena jadi market leader, maka daerah lain arahnya akan ke sana (kredit bunga rendah),” katanya.

Terkait kebijakan Ganjar yang lain, menurut Sugiyanto, jika dinilai secara umum bisa dikatakan berhasil. Sejumlah program dalam bidang ekonomi berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Saat ini pertumbuhan ekonomi Jateng sebesar 5,18%, lebih tinggi dari Nasional 5,01%. “Bicara reformasi birokrasi suka tidak suka Jateng sekarang leader,” tegasnya.

Reformasi birokrasi yang patut mendapat apresiasi, menurut Sugiyanto adalah pembangunan sistem GRMS (Government Resource Management System). Dengan GRMS, Jateng bisa menekan kebocoran anggaran. “Ini rintisan birokrasi yang bersih. Setiap orang bisa mengakses dan mengawasi penggunaan sumber daya dari perencanaan dan pelaksanaan,” jelasnya.

Dalam hal infrastruktur, Pemprov Jateng juga memiliki peranan signifikan pada infrastruktur pedesaan. Jalan-jalan kampung di desa saat ini mayoritas sudah beton. “Infrastruktur Jateng sangat bagus, dan sekarang ada tren Jateng tujuan investasi, berarti prospeknya bagus, stabilitas sosial jarang ada gejolak, ini tidak lepas dari leadership gubernur,” katanya.

Sugiyanto juga mengapresiasi naiknya indeks pembangunan manusia (IPM) Jateng dari 68,02 pada 2013 menjadi 69,98 pada 2016. Sementara soal kemiskinan, data Badan Pusat Statistik menyatakan, program penurunan kemiskinan Jateng lebih berhasil daripada dua provinsi tetangga, Jawa Timur dan Jawa Barat.

Penurunan kemiskinan Jateng selama tahun 2013 hingga 2017 sebesar 282.230 jiwa. Sementara Jabar hanya menur un 128.600 dan Jatim 154.250. Ironisnya, kemiskinanDKIJakarta dalam kurun waktuyang sama justru bertambah 35.500 orang.

Secara persentase, penurunan kemiskinan di Jateng juga lebihbaik dibanding Jatim dan Jabar yang secara luas wilayah danjumlah penduduk samasama besar ini. Sejak 2013 hingga2017, penurunan kemiskinan di Jateng sebesar 1,55%. Sedangkan Jabar 0,81% dan Jatim 0,78%.

Prestasi Jateng semakin diteguhkan dengan data yang dikeluarkan BPS Jateng. Pada periode September2016 hingga Maret 2017, secara Nasional pengurangan jumlah penduduk miskin di Jateng menempati posisi teratas.

Dalam periodeitu, ada 43.030orangyang berhasil dikeluarkan dari gariskemiskinan di Jateng. Sedangkan Jatim berkurang 21.520orang, Yogyakarta berkurang 300orang. Sedangkan beberapaprovinsi justru bertambah kemiskinannya seperti Jabar bertambah 330 orang, Jakarta bertambah 3.850 orang, dan Banten bertambah 17.300 orang.

Kepala Bappeda Jateng Sudjarwanto Dwiatmoko mengatakan, baik data akukumulasi dari 2013 hingga 2017 maupun data terakhir pada Maret 2017, menunjukkan jumlah penurunan kemiskinan Jateng lebih baik dari provinsi lain. “Kita lihat angkanya kan bagus kita terbaik lah, data Nasional malah separuh lebih provinsi kemiskinannya naik, jadi kalau ada yang menghembuskan isu negatif mungkin ya nuansa politis, itu biasa,” katanya.

Menurutnya, keberhasilan itu disebabkan sejumlah faktor. Salah satunya, koordinasi yang dilakukan antara Pemerintah Provinsi Jateng dengan seluruh pemerintah kabupaten/kota, khususnya pelayanan perizinan investasi.