Nenek Renta yang Menginspirasi Mas Ganjar

Spread the love

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sepertinya benar-benar terinspirasi dengan sosok Mbah Bandiyem, seorang nenek-nenek penjaja buah asongan di halaman kantor Gubernur Jateng yang meninggal, Sabtu (15/6) kemarin. Bagi Ganjar dia merupakan saksi sejarah sehingga layak mendapat penghormatan karena ketelatenannya merawat daya hidup.

Saat Mbah Bandiyem mengembuskan napas pada Sabtu (15/6) kemarin Ganjar Pranowo bahkan merasa wajib melayat ke Klaten, Kota Asal Mbah Bandiyem. Meskipun dia tengah bertugas di Yogyakarta dan mesti hadir di agenda Jateng Bersalawat di Semarang.

Dia merupakan saksi sejarah rentetan kepemimpinan di Jawa Tengah. Berbekal keranjang pinggul yang dibawa dari rumah di Pleburan Semarang, dia menjajakan buah secara asongan di halaman kantor orang nomor satu di Jawa Tengah.  Semasa hidupnya dia pernah mengatakan telah berjualan sejak tahun 1955, yang berarti dia jadi saksi kepemimpinan sejak gubernur Jateng keempat, MRT Mangoen Negoro.

Saat Ganjar tiba di Dusun Topeng Desa Kajen Kecamatan Ceper, Klaten menjelang Maghrib, sanak saudara Mbah Bandiyem tercengang, mereka kaget orang nomor satu di Jateng itu sudi melayat pada perempuan tua berusia 71 tahun yang hanya penjual buah asongan. Warto Painah, salah satunya, adik ipar Mbah Bandiyem.

“Kulo mboten nyongko Pak Gubernur kerso rawuh ten mriki. Kalawau kulo nggih diweruhi fotone pak Ganjar kaliyan simbok (Saya tidak menyangka Pak Gubernur berkenan hadir di sini. Tadi saya juga diperlihatkan foto Pak Ganjar dengan Mbak),” kata Painah.

Ganjar mengisahkan pertemuan pertamanya dengan Mbah Bandiyem terjadi beberapa hari setelah dilantik jadi gubernur periode pertama. Waktu itu Ganjar tengah terburu-buru masuk mobil untuk bertugas namun tiba-tiba dicegat. Bukannya langsung tancap gas, Ganjar justru ngobrol gayeng dengan Mbah Bandiyem.

Setelah obrolan gayeng itu, sesekali Ganjar menyempatkan ngobrol dengan nenek-nenek dengan sembilan cucu . Bahkan dia jadi tamu spesial saat open house di kantor Gubernur Jateng pada lebaran 2018 silam.

“Semangat hidupnya Mbah Bandiyem membuat kita yang lebih muda mesti hormat pada beliau, meski tua menolak berpangku tangan. Perjuangan Mbah Bandiyem itu pasti mengingatkan pada ibu kita yang pantang menyerah. Daya hidup beliau luar biasa,” kata Ganjar.

Sebagai salah satu penghormatan, Ganjar menjadiian Bandiyem sebagai nama gerakan kemanusiaan lewat Grup Montoran Bandiyem. Menurutnya, daya hidup Mbah Bandiyem yang pantang bergantung tangan di usia senjanya patut diterapkan siapapun, para pemuda khususnya. Maka grup motoran tersebut oleh Ganjar dijadikan dorongan bakti sosial pada anak yatim, lansia terlantar dan warga kurang mampu di seantero Jawa Tengah agar daya hidupnya kuat.

Gerakan wisata hati keliling Jawa Tengah. Dan sengaja saya pilih motor, agar siapapun bisa ikut tlusupan di seluruh wilayah, sambatan ndandani (gotong royong membenahi) Jateng. Motor ini kan sebagai sarana saja, yang paling penting adalah semua orang bisa sambatan kemana saja, bisa membantu menyelesaikan apa saja,” katanya.

Sambatan merupakan istilah orang kampung untuk gotong royong. Untuk menerapkan spirit itu, diperlukan cara yang mudah dijangkau masyarakat, motoran salah satunya. Merealisasikan hal itu, Ganjar bakal memanfaatkan motor bekas (second) yang dia beli pada awal April lalu.

“Sebenarnya saya telah keliling beberapa daerah di Jateng naik motor bekas ini. Sangat berbeda rasanya dengan ketika naik mobil. Dengan naik motor masyarakat bisa bebas berbaur dengan saya, tidak sungkan karena merasa kita ini sama,” katanya.

Bermotor memang representasi keterbukaan pergaulan. Ganjar pun mengatakan kejadian,-kejadian unik yang dia alami selama keliling Jateng mengendarai sepeda. Dari dijawil warga saat berhenti di lampu merah sampai diteriaki warga agar berhenti karena minta foto.

“Bahkan ada yang nekat mepet saya untuk minta foto. Untuk yang seperti itu langsung saya ajak menepi dan foto. Keselamatan kan harus nomor satu,” katanya.

Rupanya, motor memang terlanjur menancap di lubuk Ganjar sebagai moda transportasi, terutama usai menikah dengan Siti Atikoh. Bahkan selama empat tahun awal pernikahan, dia sering wira-wiri Kutoarjo-Purbalingga mengendarai sepeda motor Honda Astrea.

Sesekali untuk mengenang momen itu, istri akan saya ajak keliling Jateng naik motor. Semoga dia mau,” katanya.