Menilik Semangat Komunitas Difabel Blora Mustika Berkarya Lewat Batik

Spread the love

“Karena teman-teman ini luar biasa, dengan segala keterbatasan masih punya semangat untuk maju. Bisa berkarya seperti ini luar biasa dan kita yang harus mendukung,”

Dalam berkarya, keterbatasan fisik ternyata bukanlah kendala. Kondisi ini bisa dilihat dari pada anggota Komunitas Difabel Blora Mustika (DBM) yang begitu piawai membatik. Bukan hanya batik cap, namun juga batik tulis yang butuh ketelatenan.

Para anggota komunitas yang berkarya di Jl Kamolan, Kecamatan Blora Kota, Kabupaten Blora itu pun tak nampak kesulitan melakukan pekerjaanya. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo berkesempatan mengunjungi komunitas itu pada 27 Desember lalu.

Ganjar pun sempat menjajal alat cap batik dengan dituntun satu anggota komunitas yang tangannya tidak sempurna. “Gimana ini caranya? Oh begini langsung ditempelkan,” kata Ganjar didampingi Bupati Blora Djoko Nugroho beserta wakilnya Arief Rohman.

Kedatangannya, ungkap gubernur berambut putih ini untuk memberi semangat para anggota komunitas yang menurutnya luar biasa. “Karena teman-teman ini luar biasa, dengan segala keterbatasan masih punya semangat untuk maju. Bisa berkarya seperti ini luar biasa dan kita yang harus mendukung,” terangnya.

Pada kunjungan itu, Ganjar juga memborong batik hasil karya para difabel. Ia memilih tiga kain berwarna hijau, kuning dan ungu. “Sing siji ijo ya, mbok menowo koalisi karo ijo. Kiro-kiro nek tenan ndak mengko ditakokke, batik e kok mboten ijo pak hehehe. (Yang hijau satu ya, siapa tahu koalisi sama hijau. Kira-kira kalau beneran nanti ditanyain, batiknya kok nggak hijau pak hehehe),” kata Ganjar yang disambut tawa para tamu yang hadir.

DBM sendiri merupakan komunitas para difabel di Blora yang berkarya dengan menghasilkan kain batik. Hingga kini, DBM beranggotakan 600 orang penderita difabel baik karena dari lahir, penyakit hingga cacat akibat kecelakaan.

Minimnya sarana dan prasarana tak membuat para anggota patah semangat. Mereka justru terus bekerja dan berkarya untuk menghasilkan batik berkualitas dan dikenal banyak orang. Sebab mereka tak mau orang membeli hanya karena kasihan, namun harus karena kualitas.

Melihat kemajuan komunitas DBM, Ganjar mengaku berharap teman-teman berkebutuhan khusus di daerah lain juga bisa berkumpul membentuk komunitas. Dengan begitu menurutnya pemberian bantuan akan lebih mudah. “Nanti tergantung kebutuhannya, minta pelatihan kita beri, atau alat, pendampingan pemasaran dan lain lain,” katanya.

Wakil Ketua DBM Kandar mengatakan anggota komunitas saat ini terus didorong untuk berkarya dan mandiri meski dengan segala keterbatasan. Namun begitu ia mengatakan masih ada sejumlah kebutuhan untuk meningkatkan kreasi dari hasil membatik.

“Kalau bisa kami minta bantuan mesin jahit dan modal koperasi pak, untuk simpan pinjam belum ada modalnya,” jelasnya yang berharap para anggota tak hanya menghasilkan kain batik namun juga baju batik.

Terkait hal itu, Bupati Blora Djoko Nugroho lalu berinisiatif membantu kios di pasar serta ruang produksi batik dan menjahit. “Nanti saya kasih dua tempat, buat jualan di pasar dan menjahitnya,” ujar bupati.

Sedangkan untuk kebutuhan mesin jahit akan dibantu Ganjar. “Nanti diusulkan berapa kebutuhannya, pelatihan butuhnya apa, kalau gedung saya kira kurang perlu wong nggak tiap hari rapat, ya to,” jelas Ganjar.

Sedang bantuan modal, Ganjar mengatakan akan menyambungkannya dengan Bank Jateng melalui program kredit bunga rendah. Bantuan ini ungkap Ganjar diharap bisa mengembangkan komunitas dan membuat anggotanya semakin berdaya.