Mas Ganjar yang Saya Kenal

Spread the love

Sebagai Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo memang populer. Tapi mungkin hanya sedikit yang paham keseharian dan kebiasaannya. Ibarat pepatah “tak kenal maka tak sayang”, maka silakan mengenal dari tulisan ini.


Saya dan kawan-kawan relawan mengenal Mas Ganjar empat tahun lalu, tepat sebelum masa kampanye Pilgub Jawa Tengah 2013. Perkenalan yang bagi dia mungkin biasa saja, tapi berkesan jelas bagi kami. Sebelumnya saya pribadi hanya mengenalnya via layar tivi. Selain bahwa dia anggota DPR RI dari Jawa Tengah, tidak paham lebih jauh lagi.

Kesan pertama saya mungkin sama dengan kebanyakan orang. Lebih pada chasing atau fisiknya. Tinggi, ngganteng, rambutnya putih, gaya bicaranya cepat dibungkus dengan variasi volume dan intonasi. Dari Mbah Google, saya kemudian tahu kampung kelahirannya di Lereng Gunung Lawu, tepatnya Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar. Ia lahir di Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 1968. Saat maju Pilgub, usianya baru menginjak 45.

Saya tak hendak membicarakan kasus dan isu. Sudah banyak orang yang menuliskan di media online. Baik yang positif maupun negatif, baik yang benar maupun fitnah. Monggo saja. Tulisan inipun mungkin subjektif saya, berdasar apa yang saya lihat, dengar, dan rasakan selama kenal Mas Ganjar.

Nah, mulai dari kebiasaanya. Mas Ganjar ini tidak merokok. Pernah dia cerita kalau dulu merokok zaman mahasiswa. Tapi berhenti setelah melihat bapaknya, Parmudji, pensiunan polisi Brimob itu, berhenti merokok. “Kalau bapak saya bisa, mengapa saya tidak.” Begitu katanya. Tapi kalau ngobrol bareng dan ada yang merokok, dia tidak melarang.

Dia juga tidak suka gaya hidup aneh-aneh. Minuman favoritnya air putih dan teh hangat. Air minum kemasan selain air putih dia tidak mau. Kopi cuma sedikit-dikit saja, kalau pas disuguhi dan adanya hanyaitu.

Apalagi minuman beralkohol. Belum pernah samasekali saya melihat dan mendengar Mas Ganjar “minum”. Dan meskipun penyuka lagu rock metal, dia tidak pernah karaoke. Kalau nyanyi rock di panggungg itu sering. Meski suaranya ya biasa saja, sering fals malah hehe. Tapi karaoke dan pesta-pesta dunia malam tidak pernah menyambangi.

Kayak gini ini jarang lho. Politikus lain mungkin memandang karaoke hal biasa. Banyak sekali pejabat dan wakil rakyat yang tiap minggu pesta ria dengan pemandu sexy jelita bersama pengusaha atau pejabat keamanan setempat. Maaf kalau ada yang tersinggung, tapi ini fakta. Bagi penyuka dunia malam, cerita-cerita seperti itu sudah bukan rahasia.

Padahal ya bisa dibilang orang ini Islamnya abangan. Wong tidak pernah mondok, dan bukan anaknya kiai. Justru kakek dari istrinya yang kiai. Tapi bukan saja menghindari hal-hal maksiat itu tadi, malah rutin menghadiri Shalawatan Habib Syeh dan silaturahmi ke kiai-kiai besar seperti Habib Lutfi, Gus Mus dan Kiai Munif Zuhri.

Makanan favorit bebek goreng. Plus sambal pedas darilombok setan. Bikin semangat katanya. Makanan favorit berikutnya: soto. Soto Segeer Hj Fatimah Boyolali pasti diampiri kalau kebetulan kunjungan ke sana. Selama empat tahun ini, belum pernah saya melihat Mas Ganjar makan fast food. Kalau kebetulan ada yang punya fotonya makan di KFC atau McD, tolong saya dikirimi.

Selain makanan favorit, makanan apa saja asal enak ya dimakan. Ia sering menginap di rumah-rumah warga desa. Ia selalu berpesan agar tidak disiapkan macam-macam. Tidur dan makan seadanya saja. Makanan ndeso seperti lodeh, tempe dan pepes peda pun ia suka.

Kesukaan berikutnya, nonton film. Biasanya dia nonton hari Sabtu atau Minggu. Jika tidak sama anaknya, si Alam, ya sendiri sama ajudan. Dari film drama sampai perang kolosal. Baik film barat maupun Warkop DKI Reborn dia tonton.

Dulu sebelum jadi gubernur, olah raga favoritnya renang. Setiap lihat kolam, katanya bawaannya pengen nyebur aja. Tapi kini sudah jarang. Ganti gowes. Bahkan sekarang jadi gila bersepeda. Sebab tidak cuma lima atau sepuluh kilo, Mas Ganjar bersepeda Semarang – Magelang pulang pergi sudah biasa. Setiap Jumat, Sabtu, Minggu dia bersepeda bersama klub sepeda Samba. Treknya kalau di Semarang pokoknya yang ada tanjakannya. Dari tanjakan Siranda, Sigar Bencah, Gajahmungkur, Gunungpati, sampai ke arah Bandungan sana. Mau ikut? Silakan saja karena klub ini terbuka untuk umum dari pelajar sampai PNS hingga pengangguran boleh ikut serta.

Hobi lainnya adalah bersosial media ria. Makanya yang namanya handphone tidak pernah lepas dari genggamannya. Mas Ganjar mengoperasikan sendiri akun twitternya @ganjarpranowo. Tiap hari dia membalas baik reply atau quote twit ratusan kali. Dari membalas pengaduan warga hingga keluh kesah jomblowan yang merasa hidupnya paling ngenes di dunia.

Konsekuensi dari bersosial media tentu saja dibully. Dimarahi dan dipisuhi sudah biasa, tak jarang juga dibom twit. Tapi orang ini tak pernah memblock satu akunpun. Kalau ada orang mengadu sambil marah-marah, malah dibalas santai. Kalau dirasa pengaduannya signifikan dan mau mengirim nomor, akan ditelepon langsung.

Pengaduan tak hanya lewat twitter. Mau lapor langsung ya boleh. Kalau jadwal padat, asal yang lapor bersedia menunggu di rumah sampai malam pasti ditemui. Ya namanya gubernur, jadwal sudah tertata dari pagi sampai tengah malam.

Dan orang ini fisiknya kuat sekali. Saya sering mengikuti dia roadshow (kunjungan ke daerah). Misalnya suatu kali keluar rumah dinas Puri Gedeh jam 6 pagi, hari itu jadwalnya roadshow ke daerah (tiga kabupaten sekali jalan). Dari rundown sudah terlihat ada 10 lokasi dalam satu hari. Dari mendatangi forum resmi, undangan pembukaan pameran produk UMKM, kuliah umum di universitas, mengunjungi orang lumpuh di pelosokdesa, mengecek proyek jalan, mengajar di sebuah SMA, dialog dengan warga desa, mengunjungi desa rawan bencana di pucuk gunung, sidak gudang bulog, sampai wawancara dengan wartawan.

Dari pagi naik mobil, dari Semarang ke Cilacap, mampir Ambarawa, Wonosobo, Banjarnegara dan Purwokerto. Turun dari mobil jalan kaki ke lokasi yang kadang jauh dan jalannya menanjak sampai ngos-ngosan. Di lokasi, setiap kali berhadapan dengan warga harus menyiapkan materi berbeda, tapi tetap menarik dan lucu. Nah, meski panas dan selesai acara masih dikerubungi orang yang berdesakan untuk selfie, energi sabar pun harus cukup.

Selesai acara jam 12 malam sampai Semarang sudah ditunggu tamu. Ngomong lagi sampai lepas tengah malam. Jam 1 atau 2 baru tidur, lalu subuh sudah bangun. Gitu itu tiap hari. Ketika waktunya libur, ada saja undangan. Dari njagong manten, hingga jalan sehat warga kampung.

Soal njagong manten, Mas Ganjar tidak pilih-pilih. Sering datang di kawinan warga, anaknya PNS staf rendahan, atau nikahannya wartawan. Beliau ini juga selalu minta dikabari kalau ada pegawai Pemprov atau kawan wartawan yang sakit atau kesripahan. Jika waktu memungkinkan pasti disempatkan jenguk atau takziah.

Oya, dari pernikahannya dengan Mbak SitiAtikoh, Mas Ganjar hanya punya anak satu. Muhammad Zinedine Alam Ganjar. Sekarang sudah kelas 1 SMA. Entah kenapa tidak mau membuatkan adik buat Alam. Yang pasti kalau lihat anak kecil, Mas Ganjar kelihatannya senang sekali. Kalau lihat balita, pasti diambil dari ibunya dan dia gendong.

Ah pencitraan? Mungkin saja ada yang berpendapat demikian. Monggo saja. Toh pencitraan untuk hal-hal beginian tidak ada yang dirugikan.

Saya menulis untuk berbagi. Untuk anda dan sedulur semua yang ingin tahu Mas Ganjar lebih dekat. Bagi yang tidak ingin, saya minta maaf. Saya yakin (masih) banyak pemimpin kita yang baik, dan saya hanya menuliskan salahsatu dari yang baik.