Mendongeng dengan Mempesona, Giska Bawa Pulang Sepeda Mas Ganjar

Spread the love

Mendengar atau membaca legenda asal-usul daerah Wonosobo mungkin mudah ditemui, jarang ditemukan legenda tersebut disampaikan dengan cara mendongeng. Namun Giska Sema Ayu (11) melakukannya dengan sangat mempesona di hadapan orang nomor satu di Jateng, Ganjar Pranowo.

Kepiawaian Giska memang berhasil memukau Ganjar bersama istri, Siti Atiqoh. Penampilannya yang penuh ekspresif, dipadukan dengan kemampuan menirukan berbagai suara tokoh dan hewan, ditambah dengan tingkah polosnya yang menggemaskan, menjadikan apa yang disampaikan bocah kelas VI SDN Balekambang, Selomerto, Kabupaten Wonosobo ini membuat mata Ganjar dan Mbak Atiq, sapaan karib istri Ganjar, berbinar bahagia.

Wajar saja, Giska memang tercatat pernah menjuarai lomba mendongeng tingkat Jawa Tengah. Tak mengherankan jika Gubernur Ganjar Pranowo SH MIP beserta istri Atikoh Ganjar Pranowo, Sekda Jateng Drs Sri Puryono KS MP, Bupati Ahmad Mardzuki, serta sejumlah pejabat yang singgah di Pendapa Kabupaten Jepara, di sela acara rangkaian HUT ke-67 Provinsi Jawa Tengah beberapa waktu lalu, emosinya turut dituntun penuturan Giska.

Giska mengisahkan, beberapa ratus tahun silam sebelum lahirnya Kabupaten Wonosobo atau menjadi kawasan pemukiman, wilayah itu hanya berupa hutan belantara dan dihuni berbagai jenis binatang buas dan makhluk halus. Hingga akhirnya salah seorang tokoh asal bumi Wonosobo, Kiai Walik membabat pohon-pohon yang tumbuh lebat untuk membuka pemukiman penduduk.

Kendati mendapat banyak tantangan, termasuk gangguan para makhluk halus karena tempat tinggalnya ditebang, Kiai Wali tidak menyurutkan lakunya untuk membuka permukiman bagi kehidupan manusia. Melalui doa-doa yang dipanjatkan, para penunggu hutan menyerah dan terbentanglah lahan pertanian yang subur, ditambah keindahan pemandangan sekaligus permukiman warga.

“Kiai Walik pernah berujar, kelak beberapa lokasi di hutan belantara itu akan berubah menjadi kawasan yang sangat indah, subur, dan makmur. Beberapa lokasi itu adalah dataran tinggi Dieng dan Wonosobo,” ujar bocah yang bercita-cita menjadi dokter atau presenter televisi itu.

Dalam kisahnya, ia menjelaskan Wonosobo berasal dari bahasa jawa kalau menggunakan huruf hanacaraka berarti wanasaba yang secara harfiah mempunyai arti tempat berkumpul di hutan atau hutan yang banyak dikunjungi.

“Hutan lebat di lereng sisi timur Gunung Sindoro dan Sumbing itu, kemudian berubah menjadi dataran tinggi Dieng dan Wonosobo yang indah dan sangat menarik untuk dikunjungi. Ayo berkunjung ke Dieng, tempat yang indah dan memikat,” ajaknya.

Selesai bercerita, pendongeng cilik itu mendapat hadiah sebuah sepeda gunung dari gubernur. Anak kedua dari dua bersaudara tersebut sempat tidak percaya ketika orang nomor satu di Jawa Tengah memberi hadiah atas kecerdasan dan kemahirannya mendongeng.

“Ini sungguhan to, saya benar dapat hadiah dari pak gubernur? Saya bangga sekali mendongeng di depan pak gubernur dan pak bupati. Kalau benar dapat hadiah sepeda saya senang sekali,” ucapnya dengan nada belum percaya.

Sebelum menyimak dongeng tentang Wonosobo dan dataran tinggi Dieng, gubernur didampingi istri menyambangi dan mengajak dialog beberapa peserta lomba menggambar dan mewarnai di Pendapa Kabupaten Jepara. Lomba yang diikuti sekitar 90 siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) Jepara tersebut, bertujuan untuk menumbuhkan rasa percaya diri anak-anak penyandang disabilitas.

“Selain itu diharapkan mampu memotivasi anak-anak berkebutuhan khusus untuk berkreasi, tidak minder, dan bersosialisasi dengan banyak orang,” ujar Supatmini, salah seorang pengajar di SLB Jepara di sela-sela lomba.