Masdulkabi dan Masyarakat Jateng yang Kian Peduli Sungai

Spread the love

SUKOHARJO – Gubernur Jateng nonaktif Ganjar Pranowo mengimbau masyarakat yang tinggal di sekitar sungai bisa mencontoh gerakan peduli sungai seperti Masdulkabi (Masyarakat Peduli Kali Baki) Sukoharjo. Komunitas ini menggerakkan masyarakat untuk mencintai dan mengelola sungai sebagai potensi sumber ekonomi.

Hal itu dikatakan Ganjar usai berdialog dengan seribuan warga di Posko Masdulkabi di sekitar Sungai Baki Desa Menuran, Kecamatan Baki, Sukoharjo, Rabu (25/4/2018).

Masdulkabi punya empat prinsip sederhana dalam mengelola sungai. Yakni tidak buang sampah di sungai, tidak meracun dan menyetrum ikan, tidak buang limbah beracun, dan rajin menabur benih ikan.

“Meskipun sederhana, hasilnya luar biasa. Sungai Baki dulu kotor dan penuh sampah, ikan males hidup, sekarang bersih dan jadi jujugan pemancing,” kata Ganjar.

Gerakan mencintai sungai di Jateng, lanjut Ganjar, kini menjadi percontohan provinsi lain. Jateng memelopori Kongres Sungai Indonesia yang kini menginjak tahun ke empat. Di Klaten, ada sekolah sungai yang intinya mengajak generasi muda mencintai sungai.

“Sungai tidak boleh lagi jadi halaman belakang, sungai harus jadi teras, muka, yang selalu dirawat, dibersihkan dan kemudian dibanggakan,” kata Ganjar.

Ketua Masdulkabi Triyono menceritakan, komunitasnya berdiri 10 agustus 2017.  Wajah Kali Baki yang dulu kotor bisa dilihat pada foto-foto yang tertempel di dinding posko.

“Kami juga berusaha meningkatkan potensi kali baki sebagai sumber ekonomi, sekarang banyak berdiri angkringan untuk menyediakan makanan minuman para pemancing ikan,” katanya.

Ke depan, Masdulkabi berencana mengembangkan wisata air dan taman di bantaran sungai.

“Kami sudah buat desain landscape-nya, Mudah-mudahan tahun ini terealisasi,” ujarnya.

Dialog selama satu jam tersebut ditutup dengan penebaran benih ikan nila dan lele oleh Ganjar bersama Bupati Sukoharjo Wardoyo Wijaya.