Mas Ganjar Dinobatkan sebagai Bapak Kuda Lumping

Spread the love

Dinobatkan sebagai Bapak Kuda Lumping Jawa Tengah pada Sabtu (25/11), mengukuhkan Ganjar Pranowo sebagai tokoh yang mengedepankan kesenian tradisi. Penobatan dilakukan pada acara
Sedekah Sedekah Turonggo Bhumi Pala di Kabupaten Temanggung.

Pada pagelaran acara tersebut, Ganjar Pranowo beraksi di atas jaran kepang bersama 1.000 penari. Presiden Hokya Kabupaten Temanggung, Yudha Sudarmaji mengatakan acara tersebut digelar untuk mengembalikan kejayaan kesenian tradisi kuda lumping.

“Karena pada tahun 1972, kuda lumping Temanggung sempat mengalami masa jaya. jadi digelarnya acara ini untuk menggiatkan kembali sekaligus memperkenalkan kesenian kuda lumping asli Temanggung,” kata dia.

Sebagai tanda penobatan, Ganjar Pranowo langsung membeli paket kuda lumping seharga Rp 5 juta. Menurut Ganjar, kesenian tradisi merupakan benteng kuat bangsa untuk menangkal efek negatif dari percepatan arus informasi dan teknologi.

“Namun juga harus diiringi dengan proses regenerasi yang optimal. Semoga semua pihak, terutama para pelaku seni budaya kuda lumping dapat terus menjaga dan melestarikan kesenian ini. Melalui seni kita dapat menangkal hal-hal negatif yang masuk ke berbagai elemen masyarakat seperti radikalisme maupun berita hoax,” tandas dia.

Selain itu, Ganjar menjelaskan bahwa kelebihan suatu daerah memang semestinya dibanggakan dan dirawat. Terlebih yang berkenaan dengan kesenian tradisi. Karena hal tersebut menurut Ganjar mampu menjadi salah satu alternatif peningkatan ekonomi.

“Nanti dari 1000 jaran kepang itu, 100 diberikan kepada turis. Ajak mereka menari bersama, tentu sangat menarik,” tegasnya.

Ganjar menegaskan bahwa semua potensi kesenian, tradisi kususnya memiliki daya tarik yang sangat tinggi. Ganjar pun berharap event tersebut menjadi agenda tahunan. Jika sudah menjadi event tahunan, dirinya yakin akan banyak turis yang datang untuk menyaksikan acara itu.

Ganjar mengatakan bahwa Sedekah Trogonggo Bhumi Pala sangat potensial dijadikan salah satu event tahunan yang diselenggarakanTemanggung. “Kalau sudah menarik pasti wisatawan akan datang dengan sendirinya,” kata dia.

Ganjar juga menegaskan bahwa persoalan seni tradisi yang perlu mendapat kejelasan adalah tersendatnya regenerasi. Ganjar juga berpesan kepada para seniman kuda lumping untuk melakukan kreasi dalam hal koreografi.

“Biar tidak monoton, harus ada kreasi dan koreografi baru agar masyarakat khususnya wisatawan asing tidak bosan meskipun mengunjungi event ini setiap tahun,” pungkasnya.