Lemhanas Sinau Ideologi Bangsa dan Kebudayaan di Jawa Tengah

Spread the love

SEMARANG – Jawa Tengah dijadikan acuan penerapan ideologi Pancasila dan kebudayaan dalam kehidupan bermasyarakat bagi Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas). Salah satu hal yang jadi penilaian adalah kondusivitas saat penyelenggaraan Pemilu kemarin.

Dengan segala keberagamannya, selama ini Jawa Tengah dikenal sebagai Bentengnya Pancasila. Wakil Gubernur Lemhannas RI, Marsdya TNI Wieko Syofyan mengatakan toleransi yang diamalkan masyarakat yang dipimpin Ganjar Pranowo itu jadi inspirasi hidup dalam kehidupan berbangsa.

“Selama lima hari di sini kami bakal mempelajari bagaimana masyarakat sini memegang ideologi dan kebudayaan,” katanya saat melakukan dialog dengan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Senin (1/7).

Dia mengakui tingginya tingkat toleransi dan keteguhan memegang ideologi tersebut tidak terlepas dari praktek kebudayaan. Perpaduan dua hal tersebut, menurut Wieko jadi ciri khusus Jawa Tengah yang mesti dipertahankan. Buktinya, meski riuh pesta demokrasi beberapa waktu lalu, Jawa Tengah tetap menampilkan kondusivitas. Oleh karenanya, dirinya bersama rombongan juga bakal menyusuri salah satu basis kebudayaan Jawa, Surakarta.

“Kami di sini sampai tanggal 5 Juli mendatang. Hasil kami keliling ini nanti bakal jadi materi khusus yang akan dipegang siapapun yang belajar di Lemhanas, khususnya dalam penyusunan tugas akhir maupun seminar akhir,” katanya.

Kondisi Jawa Tengah saat ini diyakini diuntungkan oleh segi demografi. Namun demikian, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan kondisi tersebut juga memiliki konsekuensi yang tinggi. Politik, sejarah sampai ekonomi. Terlebih Jawa Tengah memiliki historis unik di negeri ini.

“Tantangan kami hari ini tidak ringan. Geopolitik dan historis sangat menarik apalagi di Solo Raya. Kota yang sangat dinamis. Kultur yang dimiliki sangat pancasilais. Salah satunya lewat rembugan, kultur yang sangat tua. Itu yang kami bawa dalam pemerintahan,” katanya.

Soal ekonomi, pertumbuhan yang dimiliki Jawa Tengah pada tahun lalu yang 5,1 persen dirasa masih bisa dioptimalkan sampai 7 persen pada tahun ini. Semua komponen tadi, kondusivitas khususnya bakal dijadikan senjata utama untuk menggenjot sektor perekonomian.

“Kami fokus bener di perekonomian mikro dan makro. Yang miskin ini mesti kita apakan? Maka masih banyak orang yang protes, pak saya miskin kenapa tidak dapat bla bla bla. Tapi kita tidak punya data valid,” katanya.

Menyikapi soal Jawa Tengah Benteng Pancasila yang berhasil menyelenggarakan pesta demokrasi dengan damai, Ganjar menjelaskan ada satu jurus yang dia terapkan bersama pimpinan tertinggi di Jawa Tengah.

“Alhamdulillah pesta demokrasi di Jawa Tengah berjalan aman. Padahal kita berulangkali berusaha dibenturkan. Tapi kita hadapi dengan lentur. Gempuran di medsos yang tidak bertanggungjawab sangat menguji kita,”

Di Lemhanas, lanjut Ganjar kajian seperti ini jadi konsen serius. Namun dalam kehidupan bermasyarakat, satu hal yang saat ini jadi tantangan serius, yakni teknologi gadget. Menurutnya harus ada tata moral untuk menghalau maraknya hoaks dan fitnah.

“Melalui gadget pesan langsung terkirim. Entah sedang makan, di toilet, di kamar, di kelas atau di mana pun. Gerakan narasi positif yang akan melawan. Kita harus masuk pada dunia ini (digital) dengan narasi positif. Gambaran besar ini kita berikan agar effort teman-teman dalam menjaga Jawa Tengah untuk Indonesia terus terjaga,” katanya.