Laela, Anak Bajang dari Cikampek yang Rambut Gimbalnya Harus Dicukur Mas Ganjar

Spread the love

BANJARNEGARA – Salah satu yang menarik dalam rangkaian Dieng Culture Festival adalah prosesi pemotongan rambut gimbal anak-anak bajang. Selain upacara yang berjalan sakral tersebut terdapat satu hal yang
dinanti masyarakat, yakni permintaan anak-anak bajang yang wajib dituruti.

Prosesi potong rambut gimbal pada Dieng Culture Festival Minggu (5/8) lalu terdapat permintaan unik dari salah satu anak bajang, Laela Handayani (8 tahun) yang ingin rambutnya dipotong oleh orang nomor satu di Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.

Mendapat permintaan tersebut, suami Siti Atikoh tersebut tidak bisa mengelak. Terlebih Laela merupakan salah satu anak bajang yang berasal di luar daerah Dieng. Dia asli Cikampek, Jawa Barat. Selain memiliki permintaan dipotong oleh Mas Ganjar, Laela juga minta tablet bergambar buah apel. Katanya untuk bermain.

Suasana sakral mulai terasa ketika asap dupa mengepul. Para sesepuh adat merapalkan doa-doa dengan bahasa Jawa sebagai tanda dimulainya ruwatan rambut gimbal di kompleks Candi Arjuna, Kecamatan Batur, Banjarnegara.

Beragam sesaji seperti tumpeng, ingkung, gunungan berisi ketupat dan beragam hasil bumi lengkap dengan bermacam benda yang menjadi permintaan bocah bajang (anak-anak berambut gimbal), terpajang di depan candi. Mulai dari barang remeh temeh seperti tempe gembus, es krim, ikan lele, kerupuk rambak hingga tablet, domba dan sepeda mini siap diserahkan kepada 12 anak peserta ruwatan pemotongan rambut gimbal 2018.

Ritual ruwatan yang harus dilakoni bocah bajang adalah jamasan dan juga cukur gimbal. Rambut gimbal bocah bajang memang harus dipotong. Sebab masyarakat Dieng dan sekitarnya meyakini, apabila tidak dipotong akan berpengaruh buruk terhadap anak pemilik rambut gimbal tersebut.

Rambut gimbal ke 12 bocah bajang peserta pemotongan rambut gimbal 2018, selanjutnya dilarung di Telaga Warna. Melalui prosesi tersebut, diharapkan kelak menjadi anak soleh, soleha, berbakti kepada orang tua serta berguna bagi bangsa dan negara.

Ribuan pengunjung dari berbagai penjuru nusantara dan mancanegara tampak khidmat menyaksikan ritual yang merupakan puncak rangkaian Dieng Culture Fertival 2018. Hadir pula dalam tradisi warisan leluhur masyarakat “Negeri Atas Awan” itu, Gubernur Jateng H Ganjar Pranowo SH MIP didampingi istri Siti Atikoh Ganjar Pranowo, Bupati dan Wakil Bupati Banjarnegara beserta istri, Dirjen Kementerian Pariwisata, Gusti Ngurah Putra, dan Forkompinda.

Kebahagiaan tampak membuncah di wajah para bocah bajang, senyum manis tersungging di bibir mungil mereka, ketika sang sesepuh desa memotong rambut kemudian menyerahkan barang yang menjadi permintaan masing-masing anak berambut gimbal.

Kirana (4 tahun), tersenyum bahagia saat digendong ke panggung untuk melaksanakan prosesi pemotongan rambut gimbal. Gadis kecil warga Banjarnegara itu tak henti mengumbar senyum setelah menerima es krim rasa cokelat, mangga, dan jeruk yang menjadi permintaannya.

Selain sepeda mini yang menjadi favorit permintaan, beberapa bocah bajang juga mempunyai permintaan unik ketika rambutnya dicukur. Di antaranya Nadia (3 tahun) meminta tiga ekor ikan lele hidup, Fitria (8 tahun) ingin tempe gembus, bakso, ayam, wortel, sepeda mini, dan burung kenari. Kemudian Salma (6 tahun) minta kerupuk rambak tiga bungkus, serta Aulia (7 tahun) mempunyai permintaan boneka dan baju muslim.

Mas Ganjar yang hadir dengan mengayuh sepeda pun mengaku selalu takjub dengan acara yang digelar di “atas awan” tersebut.. Termasuk prosesi pemotongan rambut gimbal yang menjadi puncak dari rangkaian DCF.

“Saya yakin banyak wisatawan yang datang ke acara ini (DCF), tidak sekali tapi berkali-kali atau lebih dari satu kali. Pagelaran DCF selalu menarik dan ditunggu-tunggu,” ujarnya.

Prosesi pemotongan rambut gimbal selalu menarik, selalu ada sepeda mini warna pink dan kambing yang menjadi pilihan anak-anak berambut gimbal. Selain itu ada beragam permintaan seperti burung, tas sekolah, ayam bangkok, dan sebagainya.

“Ada yang tidak pernah diketahui oleh orang tua. Itulah anak-anak secara kultural menjadi menarik dan menjadi misteri,” katanya.

Selain beragam budaya tradisional menjadi daya tarik Dieng, kondisi cuaca dan keelokan alam “Negeri di Atas Awan” mengundang wisatawan lokal maupun mancanegara untuk mengunjungi. Bahkan beberapa hari lalu Dieng diselimuti es menjadi berbincangan menarik di media sosial.

Mas Ganjar juga berpesan, agar seluruh masyarakat berpartisipasi membantu menjaga kebersihan Dieng. Seluruh pengunjung dan masyarakat diminta supaya tidak ada sampah yang berceceran di kawasan “Negeri para Dewa”.

“Kalau nemu sampah masukan saku lalu buang ke tempat sampah sehingga Dieng lebih cantik. Saya ingin panitia mempersiapkan diri pra festival kira-kira acara apa yang diminati, termasuk artis yang akan ditampilkan,” pintanya.