Ketika Mas Ganjar Mengenang Kedatangan Laksama Cheng Ho di Semarang

Spread the love

Tidak ingin ketinggalan kemeriahan Kirab Budaya Laksamana Cheng Ho, Mas Ganjar Minggu (12/8) hadir langsung di Kelenteng Sam Poo Kong, Semarang. Bahkan orang nomor satu di Jawa Tengah tersebut turut memanggul tandu Kimsin, arca Cheng Ho.

Kirab Budaya Laksamana Cheng Ho, menjadi simbol peringatan hadirnya pemimpin armada laut tersebut dari dataran Cina ke tanah Jawa. Acara tersebut menjadi semacam pengejawantahan pribadi Cheng Ho, Cina, Islam dan Jawa. Tidak mengherankan jika tiga budaya agung itu tergambar pada acara tahunan tersebut.

Kirab budaya Cheng Ho merupakan puncak rangkaian berbagai kegiatan dalam Festival Cheng Ho 2018. Pada Minggu (12/8) sekitar pukul 05.00 WIB, pagelaran kirab budaya dimulai dari Kelenteng Tay Kak Sie di Gang Lombok, Pecinan Semarang menuju Kelenteng Sam Poo Kong yang berlokasi di Simongan Semarang. Kemudian pada Minggu siang, rombongan kirab kembali lagi ke Kelenteng Tay Kak Sie.

Mas Ganjar yang mengenakan batik warna merah dengan corak naga, pun menandaskan demikian. Peringatan kedatangan Laksamana Cheng Ho alias Sam Poo Tay Djien ke-613 tahun ini sangat meriah. Diiringi beragam tabuhan dan tampilan atraksi barongsai, serta rombongan prajurit pembawa pusaka lambang kebesaran kerajaan Tiongkok, ribuan pengunjung dan peserta kirab tak menghiraukan panasnya Kota Semarang.

Menurut Mas Ganjar, ada banyak cerita menarik dari tradisi yang bertujuan untuk mengenang pendaratan pertama seorang Laksamana Tiongkok beragama Islam bernama Zheng He atau Cheng Ho. Laksamana Cheng Ho mengarungi penjuru dunia dengan misi untuk diplomasi perdamaian, dagang, dan bertukar kebudayaan, sehingga terjadi akulturasi budaya.

“Termasuk seperti kemeja batik yang saya kenakan ini. Ada unsur Cina karena terdapat gambar naga, ada motif Islam, serta Jawa. Ini kebhinekaan yang kita miliki,” kata Ganjar usai pelepasan Korab Cheng Ho.

Perhelatan budaya tersebut diharapkan menjadi agenda tahunan pariwisata yang mampu menggaet puluhan ribu wisatawan domestik maupun turis asing datang ke Jateng, guna menyaksikan pagelaran budaya yang sarat sejarah Cina dan Islam.

Dalam kegiatan ini, lanjut dia, masyarakat dapat mengetahui bagaimana akulturasi budaya terjadi dan ini bisa menjadi spirit toleransi, spirit yang bisa diakui bahwa kebhinekaan atau keberagaman di Indonesia adalah anugerah dari Tuhan dan menjadi rahmat bagi semua.

“Tradisi yang telah ratusan tahun diselenggarakan ini, ada nilai sejarah, agama, ekonomi dan relasi sosial dan ini penting untuk Indonesia saat ini,” terangnya.

Ia berharap kedepan semakin menarik, dikemas lebih kreatif dan melibatkan berbagai elemen masyarakat. Termasuk para pelajar dan masyarakat menampilkan berbagai kesenian lokal.

“Terbayang tidak jika semua RT di Semarang berkontribusi memeriahkan kirab Cheng Ho, pasti akan menjadi pagelaran budaya yang dinantikan banyak orang.