Jelang Pemilu, Mas Ganjar Mewanti-wanti untuk Jaga Kewarasan Berpikir

Spread the love

SEMARANG – Dalam kontestasi pemilu yang telah menjadi sebuah pesta demokrasi, kemenangan dan kekalahan adalah hal yang pasti. Meskipun Pemilu menjadi hajatan wajib dalam dunia demokrasi, ada hal yang harus lebih dijunjung, kemanusiaan.

Tidak ingin difitnah dan caci merupakan sifat alami manusia. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan menjelang pileg dan pilpres, produk-produk hoax dan hate speech terus meningkat yang dijadikan laku politik meraih kemenangan. “Kalau kita mau menghoax, hate speech itu kamu ngerti tidak sih dampaknya, itu bahaya banget,” kata Ganjar dalam Forum silaturahmi ulama dan Umara di Jawa Tengah di Hotel Gumaya, Semarang, Rabu (21/11)

Para tokoh agama, tokoh masyarakat dan pemerintahan se Jateng, kata Ganjar diminta menyiapkan diri baik-baik agar bisa menentramkan masyarakat yang merasakan suara-suara sumbang dari lawan politik yang dipilih.

“Kita berharap ulama dan tokoh masyarakat terlibar bisa meredam. Sehingga kita tidak jadi kompor, semoga ini bisa meneduhkan proses demokrasi yang nantinya akan berjalan. Sehingga Jateng adem ayem semua rasional tanpa harus melukai saudara kita,” katanya.

Ganjar juga mewanti-wanti agar tetap menjaga kewarasan berpikir saat menyelam di media sosial karena fitnah dan hate speech di sana akan terasa lebih kejam. Maka dalam forum tersebut, Pemprov Jateng mengundang Abdul Salam Rajeh dari Syuriah agar memberi gambaran kondisi masyarakat di sana, baik sebelum konflik maupun kondisi terkini.

“Agar masyarakat, pemimpin organisasi keagamaan, aktivis dan para tokoh masyarakat memahami secara gamblang keadaan negara yang luluh lantak karena penyebaran fitnah,” katanya.

Ganjar mengatakan Abdul Salam sangat mengagumi Indonesia. Selain karena Indonesia sebagai negara muslim terbesar, kondisi sosialnya sangat mirip dengan Syuriah yang juga sangat beragam, dari agama maupun adatnya.

“Tadi dikatakan, mulanya Syuriah itu adem ayem, Tapi entah kenapa ada invisible hunt yang memporak-porandakan. Ini yang jangan sampai terjadi di Indonesia. Maka mereka sangat mencintai Indonesia,” katanya.

Sementara itu, Abdul Salam Rajeh mengatakan pentingnya forum ini sebagai jalinan antara ulama dengan pemerintah. Karena menurut dia, merekalah yang menjaga masyarakat.

“Hari ini banyak orang yang mengaku mencintai Allah dan Rasulullah, tapi tidak dilandasi dengan ilmu. Akhirnya mereka mengatasnamakan cinta pada Allah dan Rasulullah tapi mencerca saudaranya, tapi memerangi saudaranya, tapi membunuh saudaranya,” katanya.

Di negeri kami, lanjutnya, banyak golongan yang masuk di negeri kami dengan menggunakan senjata dengan dalih menegakkan syariat Islam. Tapi nyatanya mereka justru merusak. Dia pun mengatakan untuk menjaga stabilitas negara harus jernih dengan mencintai Allah. Bagaimana mungkin bisa menegakkan stabilitas yang dinamakan khilafah namun mereka menghancurkan dan membunuh saudaranya seagama.

“Mereka masih ke negara kami, tapi mereka tidak menyukai warga kami, mereka membawa senjata, mereka menyebarkan fitnah. Saya tau kalian saat ini tengah menghadapi persoalan serius khususnya di media sosial. Maka kita perlu menjaga anak kita agar tidak mengonsumsi media sosial secara bebas,” katanya.