Ini Tantangan Mas Ganjar untuk Politikus yang Berlaga di Jateng

Spread the love

SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, SH, MIP meminta politikus yang berlaga di Jawa Tengah untuk gembira dan kreatif dalam menjalani kampanye. Hal tersebut untuk menekan indeks kerawanan pemilu di Jateng agar semakin kecil.

Berkaca pada penyelenggaraan Pilkada beberapa bulan lalu yang terdapat beberapa kasus money politik, penggunaan isu SARA dan beberapa pelanggaran kampanye lain, menurut Ganjar, hal tersebut merupakan langkah pragmatis politikus karena takut menang.

“Saya melihat trend kalau orang miskin gagasan yang ada adalah hoaks, marah,” katanya dalam Launching Pengawasan: Pemilu Bersih dan Bermartabat oleh Bawaslu Prov. Jateng, Senin (1/10) di Hotel Patra Jasa Semarang.

Dalam acara tersebut hadir pula Anggota Bawaslu RI, Kapolda Jateng, pengurus partai politik, calon anggota DPD Jateng, LSM dan mahasiswa.

Ganjar mengatakan ada banyak persoalan masyarakat yang bisa diangkat untuk kampanye. Dana desa, sampah, disabilitas, angka Kematian ibu melahirkan adalah sekian dari banyak persoalan yang bisa dijadikan pemicu kampanye kreatif, yang justru hal-hal yang setiap hari bisa dilihat.

“Sehingga mereka punya ide banyak, kreasi banyak, kaya akan gagasan sehingga pikiran mereka tidak lari ke bagaimana memenangkan secara paksa. Memenangkan paksa biasanya itu money politik,” katanya.

Kadang-kadang, lanjut Ganjar, masyarakat ingin sesuatu yang ditampilkan (politikus) ada faktor diferensial faktor pembeda. Faktor pembeda inilah yang menurut Ganjar menjadi penting untuk menentukan positioning setiap calon.

Sementara itu, anggota Bawaslu RI, M Afifuddin menjelaskan saat ini indeks kerawanan pemilu Jateng di kisaran 48,50 persen, atau tidak masuk kategori rawan maupun tenang. “Ini buat early warning buat kita. Bukan untuk leyeh-leyeh ataupun tegang,” katanya.

Selain itu, dia menekankan pada parpol agar terus berkoordinasi dengan Bawaslu, karena fokus Bawaslu pada pencegahan bukan penindakan. Karena kalau penindakan, kata Afifuddin, pasti ada pihak yang tidak puas dengan putusan.

“Makanya kami menggandeng masyarakat untuk mengawasi. Mari kita terapkan keadilan pemilu bukan hukum pemilu. Agar pemilu ini bersih dan bermartabat,” katanya.