Ilmuan Harus Dilibatkan dalam Pengambilan Keputusan

Spread the love

SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menilai peran ilmuan dalam penentuan kebijakan pemerintah sangat vital. Peran ahli geofisika misalnya, akan sangat berguna baginya ketika harus mengambil keputusan terkait infrastruktur.

Agar segala kebijakan yang dikeluarkan pemerintah terukur dan bisa dipertanggung jawabkan, kehadiran ilmuan tidak bisa dipandang sebelah mata. Terlebih ketika kebijakan pemerintah mengalami kendala, maka ilmuan harus turun tangan. Dalam pertemuan ilmiah Himpunan Ahli Geofisika indonesia ke-43, Ganjar mengatakan pemikiran pakar geologi sangat dibutuhkan agar bisa memberikan referensi awal bagi pemerintah. Referensi itu menjadi dasar mengambil keputusan terhadap pembangunan yang akan dilaksanakan.

“Kontribusi ilmu ini jadi sangat kita perlukan untuk bisa menyelesaikan. Ada harapan rekomendasi yang bisa kita manfaatkan, termasuk dalam perencanaan pembangunan kawasan, perumahan, sistem transportasi, yang relatif bisa dilakukan upaya mitigasi, supaya lebih aman,” katanya, kemarin.

Ganjar Pranowo lantas menceritakan pengalamannya saat mengambil keputusan membangun jalan di Grobogan yang selalu pecah, meskipun sudah dicor. Setelah diteliti, penyebab pecahnya jalan adalah karena kontur tanah yang bergerak.

“Kenapa jalan kita di Grobogan selalu pecah? Saya tanya pakar, diberi masukan di cor saja. Hasilnya kelihatan secara fisik. Tapi jalan tetap terbelah. Ternyata ini (tanahnya) gerak,” tuturnya.

Ketika sudah mengetahui kontur tanahnya gerak, maka ada dua pilihan yang mesti diputuskan pemerintah untuk masyarakat penggunanya. Pertama, mengalihkan lalu lintas di daerah yang tanahnya tidak gerak, atau tetap diperbolehkan melintasi kawasan tanah bergerak, namun dengan memperbaiki teknologi jalannya.

“Lalu saya bertanya, seberapa teknologi yang kita miliki, berapa harganya, dan kita mampu atau tidak. Saya hanya punya ilmu pengambilan keputusan, tapi ini harus dibangun. Kalau nggak, nggak bisa. Akhirnya saya ambil teknologi rigid. Tidak lagi aspal,” bebernya.

Contoh kasus lain adalah pembangunan Bandara Ahmad Yani. Setelah dilakukan kajian dan penelitian, lokasinya tidak bisa dipindah. Maka, diberikan solusi melalui konsep floating airport.

“Akhirnya dikonsep floating airport. Besok kalau terjadi land subsidance mengganggu ndak. Maka seluruh insinyur kita minta untuk membuktikan. Ndak tahu berapa tahun lagi (terbukti). Tapi ditengarai di pantura memang land subsidence-nya tinggi,” bebernya.