Ilmu Titen, Senjata Lain Mengantisipasi Bencana

Spread the love

Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH MIP mengatakan bahwa Jawa Tengah menjadi supermarket bencana. Hampir semua daerah rentan terjadi bencana, baik longsor, banjir, gempa bumi, kekeringan, gunung meletus, hingga tsunami. Maka dirinya meminta seluruh pejabat untuk mengaktifkan laku tradisi, yakni ilmu titen.

Peringatan bencana memang sudah semestinya dilakukan sedini mungkin. Ganjar menginstruksikan kepada seluruh pihak terutama jajarannya untuk tidak hanya memadukan ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun juga memanfaatkan ilmu tradisi yang telah turun temurun, yakni ilmu titen.

Ilmu “titen” dan kearifan lokal juga mampu mendeteksi akan datangnya bencana alam di suatu daerah. Ilmu titen dan kearifan lokal yang ada di daerah itu sudah bisa menjadi cara mengidentifikasi bagaimana mengantisipasi bencana kemudian bersiap-siap untuk mengurangi risiko bencana, serta memunculkan metode-metode baru yang bisa menyelamatkan warga saat terjadi bencana.

Dia mencontohkan ilmu titen yang diterapkan masyarakat di kawasan lereng Gunung Lawu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Jika rumah yang terbuat dari kayu tiba-tiba pintu dan jendela tidak bisa ditutup, maka itu menandakan akan terjadi gempa bumi. Demikian pula ketika muncul rekahan tanah dan air sumur menjadi keruh.

“Dari itu kita belajar niteni. Berbeda dengan cara niteni gempa di daerah Pemalang, warga memasang alu di bebetapa titik, dan alu itu harus milik janda. Entah bagaimana awal ceritanya bisa seperti itu, tapi itulah kearifan lokal masyarakat kita mendeteksi bencana,” terangnya.

Hal tersebut diungkapkan Ganjar saat Pendidikan Bencana Era Kerangka Kerja Sendai untuk Pengurangan Risiko Bencana 2015-2030? beberapa waktu lalu. Ganjar juga memaparkan tentang pentingnya early warning sistem (EWS) atau sistem peringatan dini bencana serta pengetahuan kebencanaan bagi masyarakat.

“Keberadaan sistem peringatan dini bagi masyarakat Jawa Tengah sangatlah penting, mengingat hampir semua daerah di Jateng merupakan supermarket bencana. Jadi bencana apapun ada di Jateng, baik tanah longsor, gempa, banjir, gunung meletus, bahkan tsunami,” bebernya.

Menurutnya, dengan adanya EWS di daerah-daerah dengan potensi bencana tinggi, diharapkan masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana bisa melakukan pencegahan untuk menyelamatkan diri saat terjadinya bencana alam. Sebab ketika akan terjadi bencana sudah bisa diketahui melalui sinyal-sinyal yang dimunculkan EWS. Salah satunya suara sirine saat akan terjadi tanah longsor.

Ganjar mengatakan, ada banyak hal penting yang bisa disampaikan kepada masyarakat terkait kesiapsiagaan bencana, baik itu ide-ide yang bersumber dari beragam pengalaman maupun dari hasil riset. Indonesia makin peduli pada bencana dan ini harus selalu dikampanyekan agar semua peduli pada kondisi daerah masing-masing.

“Kita sudah meminta kepada semua daerah, bupati dan wali kota untuk waspada. Kita meminta semua standby, siapapun, tidak hanya pemerintah termasuk juga aktivis dan masyarakat untuk menjaga guna mengurangi kemungkinan terjadinya bencana,” ujarnya.