Hindari Harga Anjlok, Petani Harus Berinovasi dan Melek Teknologi

Spread the love

SEMARANG – Para petani di Jawa Tengah diminta untuk terus berinovasi dan melek teknologi untuk menghindari anjloknya harga komoditas pertanian saat musim panen tiba.

Hal tersebut disampaikan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo saat dialog interaktif Mas Ganjar Menyapa dengan tema Anjloknya Harga Cabai di Jawa Tengah, di Puri Gedeh, Selasa (15/1). Menurut Ganjar, inovasi dan teknologi saat ini dibutuhkan para petani untuk menghindari anjloknya harga komoditi pertanian, seperti yang terjadi saat ini yakni anjloknya harga cabai.

“Petani kita itu masih tradisional, tahunya panen, selesai, ditaruh di depan rumah dan siapa mau nebas. Kalau seperti ini terus, maka harga yang dipatok adalah harga pasrah, dan itu dimainkan oleh para tengkulak,” ujar Ganjar.

Sebenarnya lanjut Ganjar ada banyak solusi yang dapat dilakukan oleh para petani. Misalnya sistem tunda jual, sistem resi gudang, menggunakan teknologi pengeringan, pengawetan dengan ozonisasi dan banyak inovasi yang lainnya.

“Bisa juga hasil cabai itu tidak dijual segar, namun diolah menjadi produk olahan seperti aneka jenis sambal. Sudah banyak ibu-ibu di desa-desa yang membuat itu dan itu hasilnya lebih bagus daripada menjual cabai setelah panen secara langsung,” ucapnya.

Untuk mewujudkan hal itu, Ganjar mengaku akan terus menyosialisasikan kepada para petani Jateng untuk berinovasi dan melek teknologi. Selain itu, para penyuluh pertanian dan instansi sektoral juga akan digerakkan untuk membantu merubah mindset para petani.

“Selain itu, kami juga telah bekerjasama dengan Bank Indonesia, Bulog dan Universitas mengembangkan gudang-gudang penyimpanan dengan teknologi ozonisasi. Di Magelang sudah ada gudang itu dan mampu menyimpan cabai selama satu bulan. Bayangkan saja, kalau kita bisa menunda penjualan satu bulan, maka harga tidak akan seperti sekarang ini,” tegasnya.

Ganjar juga mengatakan akan membantu para kelompok tani dengan mesin-mesin pengeringan cabai. Nantinya, mesin itu dapat digunakan petani untuk pengeringan dan produk turunan lainnya.
“Sehingga kalau ini berjalan, tidak akan ada lagi drama petani membuang cabai karena harganya anjlok,” tegas Ganjar.

Pemprov Jateng lanjut Ganjar juga akan melakukan penataan tanam jangka panjang untuk mengantisipasi sistem tanam petani yang seragam. Nantinya, akan ada aplikasi yang khusus digunakan untuk mendata para petani, mereka tanam apa, dimana dan kapan panenya.

“Dengan begitu kami bisa memantau dan melakukan pendataan sekaligus antisipasi permainan harga. Hanya saja semuanya itu akan berhasil jika para petani mau ditata dan diatur oleh pemerintah. Kalau masih seperti sekarang petani tanam sembarangan dan seragam, ya akan sulit. Untuk itu sosialisasi akan terus kami giatkan,” tutupnya.

Sementara itu, salah satu petani cabai asal Bergas Kabupaten Semarang, Sutikno menerangkan, sistem yang digunakan para petani saat ini memang masih tradisional. Mereka tanam, panen dan dijual kepada tengkulak.

“Memang solusi dari pak Ganjar tadi bagus, bagaimana petani bisa berinovasi dan memanfaatkan teknologi untuk pertanian, jadi tidak hanya jual hasil panen segar namun bis diolah. Akan tetapi, itu perlu proses sosialisasi panjang mengingat kami para petani sejak dahulu sistemnya ya seperti ini, tradisional,” terangnya.

Selain sudah menjadi kebiasaan, masih banyak petani di Jawa Tengah ini lanjut dia yang belum melek teknologi.

“Untuk kemajuan teknologi, masih banyak petani yang belum bisa menerima secara keseluruhan. Maka kami ini memang perlu pendampingan dan pembinaan secara terus menerus,” pungkasnya.