Hindari Fitnah, Ganjar Ajak Masyarakat Sering Sowan Kiai

Spread the love

DEMAK – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo merasa ayem bisa merasakan suasana teduh pengajian malam Jumat (31/1) di Ponpes Giri Kusumo Mranggen. Dia berpesan kepada jamaah agar sowan ke kiai jika merasa bingung di tengah maraknya hoaks di tahun politik ini.

Ganjar mengatakan selama ini Jawa Tengah menjadi percontohan negeri ini karena suasananya yang tentrem di tengah hiruk pikuk politik. “Saya titip, seng guyub seng rukun ojo gelem (jangan mau) dipecah-pecah. Wong Jawa Tengah Ojo gampang diadu,” katanya.

Ganjar mengatakan saat ini ada pihak-pihak yang mencoba mengaburkan antara kebenaran dan kebatilan. Bahkan ada pihak yang sengaja menciptakan kebatilan dengan cara menebar kebohongan terus menerus yang pangkalnya diyakini sebagai kebenaran. Untuk menghadapi yang seperti Ganjar berpesan agar jamaah sowan ke kiai.

“Jika bingung, ragu, sowan bertanya ke kiai. Berbeda tidak apa-apa, tapi jangan saling membenci. Yang penting sehat pikirnya, sehat hatinya dan sehat badannya,” katanya.

Pengajian di Ponpes Giri Kusumo merupakan agenda rutin tiap malam Jumat. Ribuan jamaah dari pelosok Jateng memenuhi pembacaan maulid hingga tengah malam. Pembacaan dipimpin langsung oleh para pondok, KH Munif Zuhri dengan membacakan maulid dziba’ serta ceramah.

Seperti halnya Ganjar, kiai Munif juga menekankan agar menghindari saling fitnah, saling memberi pembenaran diri sendiri. Dia menyayangkan jika orang-orang yang diberi label ilmuan saling unjuk kepandaian namun menghilangkan kesopanan.

“Kan semua sudah tahu yang baik yang mana, kok masih pada geger itu apa yang dicari, piye karepe. Lha profesor dengan profesor kok saling adu. Tidak punya teposliro. Dunia itu tidak selamanya mesti indah, yang penting hatinya tentrem seneng. Yang penting diridloi Allah,” katanya.

Seumpama negara ini aman, kata kiai Munif, perkara apapun yang dikerjakan jadi nyaman. Namun sebaliknya, meskipun kaya raya, harta melimpah, tapi jika selalu ribut dengan tetangga dan kawan tidak ada gunanya. Untuk menghindari hal seperti itu, kiai Munif menekankan pentingnya silaturahim, saling mengenal dengan siapapun.

“Maka kenalilah siapapun, karakternya, wataknya. Kalau begitu akhirnya bisa saling menyesuaikan. Begitu juga dengan dakwah. Walisanga dulu ketika dakwah juga menyesuaikan dengan orang-orang Jawa karena dakwahnya di Jawa. Dan akhirnya kita saat ini bisa dekat dengan Allah,” katanya.

Saat ini yang mengemban tugas berat untuk memperbaiki kondisi negeri ini, kata Kiai Munif adalah ulama. Artinya ulama yang ilmunya cocok dengan predikat ulama, yakni menyelamatkan umat. Sekarang yang seperti menurut Kiai Munif sudah langka, akhirnya dunianya sering goyang. Karena kalau ulama menyuruh syukur, ulama sudah harus bersyukur lebih dulu.

“Semoga pemimpin kita diberi kebaikan dan kesehatan. Mari berdoa semoga negara kita aman. Perbanyaklah selawat badar, agar dunia adem,” katanya.