Ganjar Pranowo saat membeli sandal japit ukir di Jepara.

Hanya Ganjar pemilik “sandal gubernur”

Spread the love

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo yang mengunjungi Pameran Desain Kreatif Pesta Rakyat HUT Jateng tiba-tiba berhenti di sebuah stand. Sejenak ia mengamati sepasang sandal jepit. Tiba-tiba tawanya meledak.

“Ha ha ha apik iki, kreatif. Sandal japit diukir,” katanya di Lapangan Terminal Jepara, Sabtu (26/8).

Ya, stand Sandal Carving Jepara (Sacaje) itu menarik perhatian Ganjar karena wajahnya jadi salah satu model yang diukir di sandal japit. Wajah Ganjar tersenyum dipahat pada sandal jepit merk swallow.

“Buatnya berapa lama,” tanya Ganjar.

“Kalau desain sederhana dua tiga jam, yang rumit bisa lima jam,” kata M Nur Fawaid, pengrajin sandal ukir Sacaje.

Selain wajah Ganjar, Nur juga mengukir logo Jateng Gayeng. Satu desain lagi yang membuat Ganjar juga tertawa adalah sebuah sandal berukir tulisan “Sandal Gubernur”. Ganjar tertarik dan langsung membeli sandal yang tidak ada di tempat lain itu.

“Tuku, tuku, kanggo suvenir,” kata gubernur berambut putih sambil memamerkan “sandal gubernur” tersebut.

Ganjar Pranowo memuji Nur sebagai pengrajin yang mampu melihat peluang dan berkreatifitas tinggi. “Ini perlu didukung, mengerjakan barang yang tak disangka-sangka hingga memiliki nilai ekonomi,” ucapnya.

Untuk sepasang sandal, Nur menjual Rp 25 ribu. Pembeli bisa memilih sandal yang sudah jadi atau memesan desain dan tulisan sendiri. Karya Nur bukan saja unik tapi juga menggelitik. Simak misalnya sandal bertuliskan “Bojoku Ketikung”, “Ngopi Ngaji”, atau “Colong Mati”.

Ada juga produk dari beberapa sandal digabung menjadi jam dinding, papan nama, dan lambang klub sepakbola. Untuk jam dan hiasan dinding, Nur membanderol Rp 75 ribu. “Harga bergantung kesulitan serta kerumitan ukiran. Tentu harga sandal ukir wajah beda dengan ukir tulisan,” terang Nur.

Menurut Nur Fawaid ide sandal ukir muncul ketika menjadi santri di sebuah pondok pesantren. Nur yang jengkel karena sandal jepitnya berkali-kali hilang kemudian mengukir sandalnya sehingga beda dari milik teman-temannya.

“Awalnya asal bikin, asal beda agar mudah mengingat sandal saya. Pertama kali saya mengukir nama di sandal. Ternyata teman-teman suka dan minta diukirkan juga,” tuturnya.

Ketika permintaan semakin banyak, Nur mulai memasang tarif. Sejak 2013 ia membuka workshop bernama Sacaje. “Itu setelah saya rasa ukiran sandal tersebut cukup rapi dan layak dijual,” kata warga Jalan Krajan RT 08/02 Jambu Timur, Kecamatan Mlonggo Kabupaten Jepara ini. Dia pun saat ini memekerjakan dua karyawan untuk membantu mengukir sandal sekaligus menjadi tenaga pemasaran.