Hadiri Ya Qawiyyu, Ganjar Ajak Masyarakat Merawat Ajaran Waliyullah

Spread the love

KLATEN – Gubernur Jawa Tengah menyerukan agar masyarakat merawat kekayaan tradisi yang telah diwariskan waliyullah. Selain memantapkan keagamaan, para waliyullah juga mengajarkan cinta pada tanah air. Hal tersebut Ganjar ucapkan di hadapan puluhan ribu warga yang menghadiri Ya Qawiyyu Sebaran Apem Jatinom Klaten, Jumat (26/10).

Sebaran Apem tahun ini, sebanyak tujuh ton apem dibagikan ke masyarakat dalam puncak acara Ya Qawiyyu Sebaran Kue Apem. Tak ayal, puluhan ribu masyarakat dari penjuru Klaten berebut kue tradisional yang disebar di pelataran Sendang Plampeyan itu.

“Dibanding tahun lalu ini lebih meriah animo masyarakat makin tinggi dan juga apemnya makin banyak. Jadi kalau dulu 6 ton sekarang 7 ton,” kata Ganjar Pranowo.

Ganjar berharap acara yang luar biasa ini akan semakin menarik minat bukan hanya warga Klaten namun dari berbagai daerah. Terlebih selain mengikuti rangkaian acara Saparan Jatinom, masyarakat juga bisa ziarah ke makam Kiai Ageng Gribig, yang letaknya di samping area Madjid Gedhe.

“Dengan animo makin bagus dan penataan makin bagus kayaknya ini bisa menjadi acara wisata yang menarik. Kita siapkan lebih baik lagi sehingga orang akan berdatangan,” katanya.

Sebaran kue apem ini merupakan rangkaian acara Saparan di Jatinom. Tradisi tahunan yang jadi magnet untuk pulang bagi warga Klaten, Jatinom khususnya yang tengah merantau. Acara berawal dari Masjid Ageng Jatinom tempat gunungan apem disemayamkan selama semalam. Usai salat Jumat, barulah gunungan apem Lanang dan Wadon diboyong menuju ke pelataran Sendang Plampeyan.

Gunungan Apem Lanang dan Wadon itu diiring oleh sesepuh dan keturunan Kiai Ageng Gribig. Ada juga Menteri Perindustrian Erlangga Hartarto, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Bupati Klaten Sri Mulyani serta pemuda-pemuda yang menabuh rebana.

“Semoga acara ini menjadi cermin bagi kita dan Indonesia, persatuan itulah yang memperkuat,” kata Erlangga Hartarto, yang juga salah satu trah Kiai Ageng Gribig saat memberi sambutan.

Ketua Panitia, Ebta Tri Cahya menjelaskan tahun ini selama satu minggu rangkaian acara digelar. Dari 18 Oktober pembukaan Perayaan Yaaqowiyyu, karnaval budaya, parade Drumband, Gejog Lesung, Jathilan, Kirab Gunungan Apem, malam Midodaren dan puncak acara Yaa-Qowiyyu Sebaran Kue Apem.

Tradisi Ya Qawiyyu, kata Ebta merupakan upaya masyarakat Jatinom untuk mengamalkan ajaran Kiai Ageng Gribig soal bersyukur dan persaudaraan. Konon, tradisi Saparan itu berawal saat Kiai Ageng Gribig hendak membagikan 3 buah penganan dari Mekah.

“Sayangnya saat akan dibagikan kepada penduduk, jumlahnya tak memadai, bersama sang istri iapun membuat kue sejenis. Kue-kue inilah yang kemudian disebarkan kepada penduduk setempat yang berebutan mendapatkannya sambil menyebarkan kue-kue ini iapun meneriakkan kata “yaqowiyyu”,” katanya.