Ganjar Tantang OJK dan BI Bantu Tingkatkan Ekonomi Jateng Hingga 7%

Spread the love

SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menantang Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jateng-DIY Aman Santosa dan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jateng Soekowardojo untuk membantunya meningkatkan pertumbuhan ekonomi Jateng menjadi tujuh persen.

Tantangan itu disampaikan Ganjar saat menghadiri acara halalbihalal di Kantor OJK Regional 3 Jateng-DIY Jalan Kyai Saleh Kota Semarang, Selasa (11/6/2019). Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Jateng yang berada pada kisaran 5,14% masih dirasa kurang.

“Itu kuranglah, sudah saatnya kita berlari. Maka tadi saya memberikan tantangan kepada OJK dan BI serta lembaga keuangan lainya, bisa tidak membantu kami menumbuhkan perekonomian Jateng menjadi tujuh persen,” kata dia.

Untuk mewujudkan target itu, dalam waktu dekat gubernur akan membuat pertemuan rutin dengan OJK, BI, lembaga keuangan dan perusahaan-perusahaan yang membahas banyak hal. Mulai dari persoalan yang dihadapi, hingga kontribusi yang bisa dilakukan.

“Mungkin minggu depan akan kami gelar pertemuan ini, saya akan sampaikan problem ekonomi di Jateng seperti apa, lalu kontribusi lembaga-lembaga keuangan dan perusahaan ini bagaimana untuk mendorong target itu. Termasuk strategi apa yang harus dilakukan hingga sampai pada regulasi apa yang diperlukan secara khusus,” papar mantan anggota DPR RI ini.

Untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Jateng, menurut Ganjar, peran lembaga-lembaga keuangan dan pihak-pihak yang bergerak dalam bidang ekonomi sangatlah penting. Melalui pertemuan yang diinisiasinya itu, diharapkan akan memunculkan peran dari masing-masing sektor untuk berkontribusi dan bergerak bersama.

“Semua akan dibahas secara detail, untuk menuju tujuh persen itu berapa investasi yang harus masuk ke Jateng, jenis investasinya apa, tempatnya di mana, insentif apa yang bisa didorong. Kalau dari kami tentu bicara soal regulasi atau kebijakan apa yang bisa membantu investor, mungkin perizinan yang dimudahkan, tata ruang, melakukan tax holiday, dan sebagainya,” terangnya.

Alumnus UGM ini menyampaikan, sektor investasi merupakan sektor utama yang dapat digenjot untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Meski begitu, pihaknya tetap akan mempertimbangkan daya dukung lingkungan dan tata ruang agar selalu mencapai keseimbangan.

“Dalam waktu dekat saya diundang ke Jakarta untuk membahas adanya industri besar yang ingin masuk ke Jateng, yang membutuhkan lahan sekitar 1.000 hektare. Ini salah satu contoh yang membuat saya optimistis pertumbuhan ekonomi di Jateng dapat terdongkrak,” tukasnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan BI Jateng Soekowardojo mengatakan, tantangan yang diberikan Ganjar tersebut cukup berat. Meski begitu, dengan potensi yang ada, dia meyakini angka tujuh persen dapat terwujud.

“Tapi tidak bisa dengan jangka pendek, kalau jangka menengah panjang sekitar tiga sampai lima tahun kemungkinan baru bisa tercapai,” ucapnya.

Menurut Soekowardojo, saat ini angka pertumbuhan ekonomi Jateng berada di angka 5,14 persen. Jumlah itu masih tertinggal dari pertumbuhan seluruh Jawa yang mencapai 5,66 persen.

“Jadi, jangka pendeknya yang harus dikejar ya menyamai pertumbuhan ekonomi seluruh Jawa itu, baru kemudian berupaya mengejar target tujuh persen tersebut,” tegasnya.

Meski tantangan itu cukup berat, lanjut Soekowardojo, namun BI dan lembaga keuangan lain di Jateng akan berusaha sekuat tenaga melakukan akselerasi dalam rangka peningkatan ekonomi tersebut.

“Nanti kami akan membantu memilah, industri dan investasi apa yang cocok di Jateng untuk mendongkrak pertumbuhan itu. Karena selain bicara modal, investasi juga harus mempertimbangkan penyerapan tenaga kerja untuk mengurangi angka kemiskinan. Jadi nantinya, selain pertumbuhan ekonomi tercapai, kemiskinan di Jateng juga bisa terangkat,” pungkasnya.

(Bw, Humas Jateng)


2019-06-11 07:16:38

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *