Ganjar Tantang Kades Balerante Atasi Kekeringan

Spread the love

KLATEN – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memberikan bantuan 30 tangki air bersih kepada warga di Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten yang kesulitan air bersih akibat terdampak musim kemarau sejak tiga bulan lalu. Penyerahan bantuan dilakukan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Kamis (11/7/2019).

Sambil memberikan bantuan air bersih untuk 600 kepala keluarga di desa tersebut, kedatangan Ganjar ke lokasi juga untuk mencari solusi jangka panjang mengatasi kekeringan di wilayah itu. Sebab, setiap musim kemarau, desa tersebut selalu dilanda kekeringan.

Dari warga, relawan BPBD dan Kepala Desa Balerante, gubernur mendapatkan informasi, di bawah desa terdapat sumber mata air. Namun, warga kesulitan untuk mengalirkan air dari bawah menuju Desa Balerante. Selain cukup jauh, desa yang berada di lereng Gunung Merapi tersebut paling tinggi diantara desa lain.

“Sebenarnya ada sumber air Pak, tapi letaknya di bawah desa dan cukup jauh. Jadi sulit mau ditarik ke atas. Biayanya juga pasti mahal,” ungkap Kepala Desa Balerante, Sukono (40).

Sukono mengatakan, di desanya terdapat tanah desa seluas lima hektare. Lahan itu dapat digunakan untuk pembuatan embung guna mengatasi kekeringan.

Mendengar hal itu, Ganjar langsung memberikan tantangan kepada Sukono untuk mengkaji dan menganalisis kemungkinan menarik air dari bawah menuju ke desanya. Selain itu, ia juga meminta agar Sukono segera mengajukan proposal pembuatan embung.

“Coba dikaji, kemudian dihitung berapa biayanya. Setelah itu ajukan ke saya. Saya kasih waktu maksimal dua minggu untuk menghitung, kalau sudah ada nanti saya bantu. Soal anggaran, biar urusan saya dengan bupati,” kata Ganjar didampingi Bupati Klaten, Sri Mulyani.

Gubernur mengatakan, persoalan kekeringan memang kerap melanda warga yang tinggal di lereng gunung. Seperti, di lereng Gunung Merapi ada Kabupaten Klaten, Magelang, sementara di lereng Gunung Slamet ada Purbalingga dan sekitarnya.

“Solusinya ya menarik air sampai sini. Kalau posisi sumber air ada di atas desa, itu mudah. Persoalannya ini sumbernya di bawah, jadi agak repot. Tapi bisa dibuat bertingkat dan ada pompanya. Memang agak mahal, tapi nanti biar Pak Kades menghitung,” jelasnya.

Tantangan itu diberikan Ganjar kepada Sukono karena ia baru saja dilantik menjadi kades. Menurutnya, saatnya sekarang Sukono membuktikan mampu menyelesaikan persoalan air di wilayah itu.

 

“Sebenarnya ini bisa dijadikan bisnis, bisa jadi BUMDes atau seperti Pamsimas (Program Nasional Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat). Tinggal ngitung saja berapa harganya, butuh diesel berapa, perawatan berapa dan lainnya. Saya minta segera diajukan, nanti saya carikan anggarannya,” tandasnya.

Sementara itu, penyaluran bantuan air bersih yang dilakukan Ganjar disambut antusias masyarakat. Mereka berbaris antre dengan membawa ember untuk mendapat giliran jatah air.

“Senang sekali dapat bantuan air bersih dari Pak Gubernur, biasanya saya sehari-hari beli air Rp150 ribu satu tangki. Itu habis dalam waktu 15 hari,” kata Bejo (56), warga Desa Balerante.

Dikatakan, kekeringan yang melanda desanya sudah berlangsung lebih dari tiga bulan. Setiap musim kemarau, warga desanya kesulitan air bersih antara lima sampai enam bulan.

“Terima kasih sekali sudah ada bantuan, tapi yang bikin kami tambah senang karena tadi Pak Gubernur menawarkan solusi jangka panjang supaya daerah sini tidak kekeringan lagi,” ujarnya.

 

Penulis : Humas Jateng

Editor : Ul, Diskominfo Jateng

Foto : Humas Jateng


2019-07-12 05:21:21

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *