Ganjar : Kusta Bisa Dicegah dan Disembuhkan

Spread the love

SEMARANG – Membuka peringatan Hari Kusta Sedunia Tingkat Jawa Tengah di Grhadhika Bhakti Praja, Senin (3/2/2020), Gubernur Jateng Ganjar Pranowo membacakan pesan yang masuk ke WhatsApp pribadinya dari seorang warga Pekalongan.

Dalam pesan itu, EJ meminta Ganjar untuk membantu istrinya yang menderita penyakit kusta agar bisa dirawat di Rumah Sakit Kusta Donorojo di Kelet Kabupaten Jepara.

Pesan itu ditindaklanjuti Ganjar dengan meminta Kepala Puskesmas Buaran Kabupaten Pekalongan dr Endah Minarti untuk membantu pengobatan istri EJ. Kebetulan, Endah turut hadir dalam peringatan tersebut.

“Sudah langsung ditangani, pasien kusta langsung mendapatkan bantuan ambulans dan dibawa ke RS Kelet,” kata Endah.

Ganjar mengatakan, saat ini jumlah penderita kusta di Jateng sebanyak 1.490 pasien. Jumlah ini tertinggi ketiga setelah Jawa Timur dan Jawa Barat atau meski angkanya terus menurun.

Meski demikian, Ganjar meminta jajarannya untuk terus siaga memantau perkembangan pasien yang telah terdeteksi maupun kepada pasien baru.

“Kusta itu bisa diobati, pasiennya jangan didiskriminasi. Kita deteksi sejak dini yuk, ciri-cirinya gampang kok, kalau menemukan bercak seperti panu, tetapi mati rasa, segera pergi ke dokter, agar bisa diantisipasi sejak dini,” kata Ganjar.

Ganjar juga meminta masyarakat untuk menolong pasien kusta dengan memperbanyak literasi agar dapat memberikan sosialisasi kepada masyarakat lainnya tentang kusta. Harapannya, masyarakat mendapatkan informasi yang benar tentang kusta sehingga tidak panik ketika keluarga maupun tetangganya menderita penyakit tersebut.

“Berikan cerita, edukasi, agar kita semua bisa peduli, hati-hati dan hidup sehat,” tandas Ganjar.

Pakar penyakit kulit Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro dr Renni Yuniati SpKK mengatakan masyarakat selama ini belum bisa mendeteksi penyakit kusta. Mayoritas mengira bercak putih di kulit adalah panu.

“Memang gejala awalnya seperti penyakit panu, muncul bercak merah di kulit yang jika disentuh dengan kapas atau jarum mati rasa. Jika merasakan gejala seperti itu sebaiknya segera memeriksakan diri ke puskesmas agar segera mendapatkan penanganan cepat,” kata Renni.

Jika terdeteksi ada satu hingga lima bercak, pasien harus berobat selama enam bulan. Pengobatan bisa berlangsung lebih lama jika terdapat lebih dari lima bercak.

“Mulailah dengan berburu bercak antaranggota rumah tangga. Karena penyakit ini genetik, seluruh anggota keluarga harus diperiksa. Meski ada pula yang ketika tahu menderita kusta justru disembunyikan, lalu setelah cacat baru bereaksi. Cacat kusta itu kan yang kita hindari dengan pengobatan terus menerus seumur hidup,” tandas Renni.

Renny berharap, masyarakat meningkatkan kualitas sanitasinya menjadi lebih higienis, menjaga daya tahan tubuh dengan menambah asupan nutrisi dan makanan bergizi serta cukup istirahat.

“Ketika sudah muncul bercak gejala kusta, ditambah stres fisik dan psikis, tubuh yang berfungsi pun hanya tinggal beberapa persen saja. Alhasil, kerentanan terhadap kusta pun, lebih besar,” imbuh Renni.

Meski demikian, bukan berarti kusta tak dapat disembuhkan. Dalam acara tersebut, Ganjar mengundang mantan penderita kusta yang sembuh setelah menjalani pengobatan rutin. Mereka adalah Heni Indra Kusuma, Rohmat dan Endin.

“Pada tahap awal, kusta ditandai dengan munculnya bercak-bercak pada kulit. Bercak ini dapat berwarna cokelat, putih, atau merah, tapi tidak menimbulkan gatal. Bercak ini muncul tidak merata di seluruh tubuh. Sensitivitas bercak ini berbeda dengan bagian kulit yang normal. Rasanya cekot-cekot. Alhamdulillah, sekarang sudah sembuh, tinggal pengobatan rutin,” kata Heni. (Humas Jateng)

2020-02-03 13:11:03

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *