Di Tengah Geger PPDB, Ganjar Tetap Sabar Balas Wadulan Orangtua

Spread the love

SEMARANG – Sejak proses awal dibuka, penerapan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) online sistem zonasi telah membuat “geger genjik“, kebingungan di kalangan orangtua. Namun tidak banyak tokoh-tokoh sentral pendidikan tanah air terlebih kepala daerah yang memberi penjelasan bahkan menuntun masyarakat untuk menepati sistem tersebut.

Di Jawa Tengah proses PPDB online sistem zonasi diawali dengan pengambilan akun pada 24-28 Juni, dilanjut pendaftaran online pada 1-5 Juli. Sejak itu pula para orangtua mulai memunculkan kekhawatirannya.

Mendatangi sekolah pagi buta demi mendapatkan akun, berebut “antrean” untuk mendaftar online di sekolah bahkan tidak sedikit yang mengakali zonasi ataupun jalur prestasi lewat Surat Keterangan Domisili (SKD) dan piagam abal-abal.

Dari awal proses itu pula, Ganjar Pranowo mewanti-wanti warga Jawa Tengah agar tidak mempermainkan sistem PPDB itu, baik dengan memanipulasi SKD maupun piagam. Karena itu orang nomor satu di Jawa Tengah ini membuka lebar-lebar aduan atau ruang konsultasi lewat posko maupun media sosial, termasuk akun pribadinya.

Otomatis dia jadi sasaran wadulan bahkan kejengkelan orangtua. Namun itu tidak membuat Ganjar ciut. Satu persatu keluhan dibalas, dan tidak sedikit yang ditelpon langsung.

“Banyak yang masuk ke akun pribadi. Ada yang DM (direct message) japri WhatsApp maupun telepon langsung,” kata Ganjar.

Pesan-pesan yang masuk itupun oleh gubernur ditanggapi satu persatu di sela-sela kegiatannya. Biasanya pesan-pesan itu ditanggapi saat Ganjar di dalam mobil saat perjalanan maupun usai kegiatan keseharian.

Saat menanggapi DM dari siswi asal Blora misalnya. Ganjar mengatakan saat itu dia tengah bersiap-siap untuk istirahat. Karena merasa aduan siswi itu urgen, Ganjar meminta nomor handphone siswi tersebut untuk ditelpon.

“Siswi itu malah membalas, buat apa bapak minta-minta nomor saya. Akhirnya saya jelaskan dan langsung saya hubungi,” ungkap mantan anggota DPR RI ini.

Begitu Ganjar menelpon, siswi tersebut ternyata tidak berani menjelaskan dan diberikan pada bapaknya. Merasa bisa berbincang langsung dengan Ganjar, dia pun tidak menyia-nyiakan kesempatan dengan meminta kompensasi agar anaknya bisa diterima di salah satu SMA di Blora di luar zonasi semestinya. Ganjar pun menjelaskan tidak punya hak memasukkan atau menitipkan siswa pada sistem PPDB ini.

“Saya saja tidak punya kuota jalur khusus. Saya persilakan untuk kembali ke zonasi masing-masing. Kalau tidak, silakan manfaatkan jalur prestasi,” katanya.

Kasus itu lain halnya dengan DM dari anak cleaning service ke akun pribadi medsos Ganjar. Ganjar menjelaskan, anak itu tidak keterima masuk sistem zonasi di SMAN 4 Semarang. Padahal jarak rumahnya tidak lebih dari satu kilometer.

Dia juga mengaku telah mendaftar di tempat lain namun juga tidak keterima. Kemudian Ganjar meminta anak tersebut datang ke posko untuk meminta kejelasan. Anak tersebut mengatakan telah ke kantor Dinas Pendidikan tapi tidak bisa menemui Kepala Dinas. Dia bersama bapaknya hanya ditemui petugas posko bernama Jumeri.

“Lho Pak Jumeri itu Kepala Dinas. Begitu saya konfirmasi ke Pak Jumeri, ternyata anak itu telah diterima di SMAN 4 Semarang,” terang gubernur.

Yang paling membuat Ganjar terkesiap adalah ketika salah satu kawannya tiba-tiba mengirim pesan dan memaksakan anaknya masuk ke SMAN 3 Semarang. Merasa diintervensi, Ganjar pun muntab.

Lha kok kowe meksa aku. Kalau kamu temanku, mestinya kamu tahu bagiamana sistem ini saya kawal agar berjalan semestinya. Silakan daftarkan anakmu ke zonasi semestinya,” tegasnya.

Di berbagai kesempatan, Ganjar menekankan agar orangtua tidak perlu risau dengan penerapan sistem zonasi ini. Jika ternyata tidak bisa masuk ke sekolah negeri, masih ada sekolah swasta. Salah satu upaya mengakomodasi siswa berprestasi, Ganjar pun telah mengajukan ke Kementerian Pendidikan agar Jawa Tengah memberi kuota 35 persen dari kuota awal yang hanya lima persen.

“Yang miskin akan kita kasih beasiswa, tapi jangan pura-pura miskin. Sekolah tidak hanya negeri, saya dulu juga pengin masuk SMA negeri tapi tidak bisa. Dan sekarang malah jadi gubernur,” tandasnya.

Penulis : Humas Jateng

Editor : Ul, Diskominfo Jateng

Foto : Humas Jateng

 
2019-07-10 05:21:29

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *