Bikin Tercengang, Ukuran Kamar Mas Ganjar ketika Pertama Hidup di Jakarta Hanya Segini

Spread the love

Tidak ada jalan pintas menuju kesuksesan. Sebagaimana pula yang dialami Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Siapa sangka, ketika pertama kali menjejakkan kaki di tanah Ibu Kota Negara pada rezim Orde Baru, suami Siti Atiqoh tersebut hanya menempati kamar berukuran 2 X 3 meter.

Mengadu nasib di Jakarta, Ganjar Pranowo pada tahun 1995 yang baru lulus dari Universitas Gajah Mada menjadi Konsultan Sumber Daya Manusia di PT. Prakarsa. Tidak mudah bagi lajang untuk
menempa hidup di Ibu Kota pada zaman represif tersebut. Terlebih sedari mahasiswa Ganjar Pranowo sudah terkenal lantang menyuarakan pendapat.

Kehidupan Ganjar semakin terhimpit saat memasuki tahun kedua di Ibukota. Pada saat itu, Ganjar Pranowo yang saat itu sudah menjadi anggota Partai Demokrasi Indonesia, memutuskan keluar,
setelah Suryadi memimpin dan menyingkirkan Megawati Sukarnoputri, atau yang terkenal dengan tragedi Kudatuli akronim dari Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli 1996, yang terjadi di Kantor DPP PDI.

Ingatan Ganjar Pranowo tentang beratnya masa awal kehidupannya di Jakarta tiba-tiba melintas tanpa permisi. Saat itu, Ganjar Pranowo tengah menengok sebuah rumah yang baru saja selesai
pembangunannya, Rabu (29/11). Hampir seluruh bagian rumah adalah kayu, dengan beberapa kamar, dan bagian depan rumah dijadikan warung kopi. Pembangunan tersebut berasal dari bantuan program Gubernur untuk mengatasi Rumah Tak Layak Huni.

“Iki hasile? Wah ada warungnya juga,” kata Ganjar melihat rumah yang baru selsai dikerjakan tersebut sambil menyalami ibu-ibu.

Budi, sang ahli rumah, kaget melihat serombongan Gubernur Jateng dan Bupati Grobogan berduyun-duyun menyambangi rumahnya di Dusun Tanjungsari Desa Tlogorejo Kecamatan Gabus Kabupaten Grobogan. Raut wajah dan perasaannya bercampur aduk.

“Niku seng nduwe omah, pak,” kata salah seorang warga menjelaskan bahwa yang sedang diajak salaman Ganjar adalah pemilik rumah.

Ganjar yang dipersilakan masuk rumah tersebut kemudian mengamati foto-foto di dinding rumah yang menggambarkan proses pembangunan. Mulai awal mula rumah, proses gotong royong, pembuatan warung hingga akhirnya seluruh bagian rumah dari sebuah warung berdiri.

“Warung opo iki?” kata Ganjar dengan nada yang sangat akrab, yang kemudian dijawab kompak warga, “warung kopi, pak.”

Merasa dirinya tidak ada kopi di meja warung, Ganjar menyerobot jawab, “Lha ndi kopine?”

Salah seorang warga kemudian menyebutkan beberapa jajanan yang ada. Sementara pandangan Ganjar masih berputar pada dinding-dinding rumah. “Rumah sehat layak huni. Dapat bantuan berapa kemarin,” kata Ganjar membaca tulisan di dinding dan langsung mengajukan tanya pada pejabat desa setempat yang langsung menjelaskan jumlah bantuan sebesar Rp 10 juta.

Merasa dirinya tengah berada di warung kopi, Ganjar lantas memesan kopi. Seluruh rombongannya juga ikut dipesankan. Menunggu kopi tiba, Ganjar lantas memasuki ruangan demi ruangan rumah budi.

Ganjar kemudian mengintip sebuah kamar yang berukuran sekitar 2 X 3 meter. Pada saat itulah, kenangan semasa hidup di Ibukota melintas.

“Tak kandani mas, kamarku pertama kali pas aku nyambut gawe neng Jakarta, sori mas yo, ukurane sakmene. Aku turu neng ngisor, sebelahe lemari,” kenang Ganjar, yang dalam bahasa Indonesia, tak kasih tahu mas, kamarku pertama kali ketika bekerja di Jakarta, maaf ya mas, ukurannya sama dengan ini. Aku tidur di bawah, sampingnya almari.

Sejurus kemudian, Ganjar keluar diberitahu bahwa kopi yang dipesan telah jadi. Sambil menikmati kopi, Ganjar dihibur Budi, yang ternyata juga berprofesi sebagai tukang kendang orkes dangdut.
Namun karena tak ada kendang, akhirnya diganti dengan galon. Usai menerima hiburan, Ganjar lantas pamit. Namun ketika keluar, ternyata kerumunan warga telah menunggu di depan rumah, untuk mengajak gubernur yang identik dengan rambut putih tersebut untuk berfoto bareng.