Bersama Sultan Hamengku Buwono X dan Mahfud MD, Mas Ganjar Makan Kembulan di Malioboro

Spread the love

YOGYAKARTA – Jogja memang istimewa. Peringati bulan Pancasila, warga Yogyakarta menggelar acara secara maraton selama 3 bulan, dari 1 Juni hingga 25 Agustus. Dan pada Selasa (7/8) malam, jalan Malioboro disesaki warga dan pejabat yang duduk lesehan untuk acara Dhahar Kembul Tumpengan Pancasila.

Selepas Maghrib sepanjang jalan Malioboro ditutup untuk kendaraan bermotor. Para pejalan hanya boleh melintas di pedestarian. Karena di tengah jalan tumpeng-tumpeng di tata.

Barulah selepas isya, setelah Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X bersama Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, Mahfud MD dan sejumlah pejabat bergabung, semuanya duduk lesehan.

Sultan menyampaikan bahwa semuanya harus bersedia duduk bersama, sebagai manifestasi pengamalan Pancasila. Tidak peduli apakah dia rakyat maupun pejabat.

“Kawulo itu warga seluruh masyarakat. Kalau pejabat itu kumawulo, itu mereka (pejabat) bagian dan mengabdi untuk sampeyan semua. Supaya masyarakat Yogya dalam mencari makan tetap merasa aman dan nyaman. Dan yang duduk di sana sangat paham itu. Kalau jadi pemimpin itu jangan hanya bisa mengibarkan bendera sendiri, tapi bendera yang lain agar semua makmur,” kata Sultan, merujuk pada seluruh bupati dan walikota se Yogyakarta yang berlatar kader partai politik.

Melanjutkan ungkapan kebangsaan, Sultan menegaskan bahwa Yogya tunduk pada negara Republik Indonesia, ideologi Pancasila dan undang-undang.

“Ngayogyakarta mengakui itu dengan tulus
Kepada Kawulo Ngayogyakarta jangan khianati ketulusan Ngayogyakarta,” kata Sultan.

Seperti menyambut ungkapan kebangsaan Sultan, berbagai pertunjukan kesenian juga menyuarakan nilai-nilai patriotisme. Dari tarian hingga permainan biola dari Power princess Violin yang memainkan nada-nada lagu kebangsaan.

Semua pertunjukan dibawakan oleh pemuda. Sebagaimana seluruh rangkaian acara dari 1 Juni lalu yang sebagian besar berkonten kepemudaan.

Sementara itu, Ganjar Pranowo yang hadir dalam kapasitasnya sebagai Ketua Keluarga Alumni Universitas Gajah Mada (Kagama) mengaku Yogya selalu menampilkan hal-hal yang asyik.

“Ini sangat menarik. Jogja banget. UGM atau alumninya UII Pemprov Jogja bisa bareng-bareng memberi warganya untuk mengajak makan bersama,” katanya.

Pada malam itu memang sebagian besar warga Yogyakarta diajak untuk makan bersama. Bukan hanya di jalan Malioboro, Dhahar Kembul tersebut dilakukan di 17 titik dengan 357 tumpeng. Seperti memberi isyarat bahwa pemerintah harus menjamin semua rakyatnya bisa makan.

“Apa yang disampaikan Sultan sangat bagus sekali, semua diberi kesempatan untuk bisa mencari makan yang setara,” katanya.

Menurut Ganjar, acara dhahar Kembul tersebut merupakan suatu cara untuk menyampaikan kepada publik, mestinya berpancasila itu tidak membeda-bedakan.

“Ini isyarat, begini lho berpancasila saling menghormati saling menghargai. Mereka bisa bergembira bersama,” katanya.

Karena pentingnya esensi acara tersebut, Ganjar Pranowo pun tidak kalah semangat untuk turut menyelenggarakan acara serupa. Terlebih, dia mengaku mendapat mandat dari Sultan agar acara serupa dilaksanakan di Jawa Tengah.

“Saya sudah dipesen, mas habis ini di Jawa Tengah. Oh siap, insyaallah September nanti,” katanya.