Begini Ekspresi Ganjar Lihat Pelajar dari Papua Nembang Jawa

Spread the love

Lantunan tembang macapat merdu terdengar hingga ke luar ruang pertemuan di SMAN 1 Bojong, Pekalongan. Jika hanya mendengar lirik pucung yang ‘njawani‘ tersebut, tentu setiap orang tidak akan menyangka bahwa yang menyanyikan tembang khas Jawa itu adalah tiga siswi asli Papua.

Penampilan Febbi Afrelia Gobai, Diana Felby Kafar, dan Novita Melani Rumajauw di depan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan ratusan siswa, wali murid, dan para guru SMAN 1 Bojong sangat memukau. Meski bukan warga asli Jawa Tengah, namun para siswi peserta program Afirmasi Pendidikan Menengah (Adem) itu sangat fasih dalam mengucapkan setiap lirik tembang.

Penampilan tiga remaja Bumi Cendrawasih itu semakin memukau ketika pada akhir tembang dipadu dengan syair lagu daerah Papua, Yamko Rambe Yamko. Tepuk tangan semakin bergemuruh ketika tiga rekan mereka lainnya yang juga dari Papua bergabung dan menari, yakni Tina, Hizqia, dan Fernando.

Gerakan tarian dengan iringan musik rancak lengkap dengan kostum dan pernak-pernik khas Papua, menambah suasana program “Gubernur Mengajar” pada Kamis (26/10) kian semarak. Tanpa canggung dan wajah penuh ceria, para siswa dari pulau seberang itu bernyanyi dan menari dengan kompak.

Tidak hanya pandai nembang macapat, para siswa dari Papua itu juga ternyata sudah mahir berbahasa Jawa krama. Bahkan ketika Gubernur berbincang menggunakan bahasa Jawa, Febbi, Diana, dan Melani mampu menjawab dengan bahasa Jawa yang baik.

“Sekarang hari Kamis. Setiap Kamis, saya mengajak semua warga Jateng berbahasa Jawa. Kebijakan ini untuk nguri-nguri budaya daerah. Nah sekarang kalian memperkenalkan diri menggunakan bahasa Jawa bisa nggak?” pinta Ganjar.

Atas tantangan orang nomor satu di Jateng itu, para siswa Adem ini satu per satu memperkenalkan diri menggunakan bahasa Jawa dengan penuh percaya diri. Dengan tutur kata lembut, mereka memperkenalkan nama, asal, dan cita-cita masing-masing.

“Nami kulo Diana Felby Kafar, kelas XII, asale saking Kabupaten Biak, pingin jadi bupati,” ucap Diana. Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia yakni nama saya Diana Felby Kafar, kelas XII, asal dari Kabupaten Biak, ingin jadi bupati.

Mendengar jawaban dari para siswa, gubernur mengaku salut dengan kecerdasan mereka. Kendati bukan warga Jateng, namun mereka sangat menghormati dan turut melestarikan budaya daerah lain tanpa meninggalkan budaya sendiri.

“Karena kalian bernyanyi dan menari sangat bagus, suaranya juga merdu sekali maka saya kasih hadiah berupa bingkisan dan Tabungan Simpenan Pelajar (Simpel) dari Bank Jateng. Terima kasih juga atas tembangnya,” terangnya.

Selain membahas dan tanya jawab tentang seni budaya, dalam kegiatan tersebut gubernur juga mengajak para siswa berdialog tentang beragam hal, terutama yang dapat merusak generasi muda bangsa. Seperti tentang narkoba, paham radikalisme, pornografi, dan lainnya.