Begini Cara Mas Ganjar Membangkitkan Gelora Kesenian Tradisi

Spread the love

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo berinisiatif ngunduh wayang dan ketoprak setiap bulan. Secara khusus Ganjar menekankan acara tersebut harus digarap secara kolosal dan melibatkan anak-anak serta pejabat setempat.

Hal tersebut disampaikan Ganjar saat menghadiri puncak perayaan Hari Wayang Nasional di halaman RRI Semarang, Jalan Ahmad Yani nomor 144 Semarang, Senin (13/12). Menurut Ganjar, ngunduh wayang dan ketoprak ini bisa digelar bergantian di 35 kabupaten kota di Jateng. Dalam setiap acara wajib menyertakan tokoh-tokoh setempat sebagai pemain, dikemas secara kolosal dan melibatkan anak-anak.

“Kalau wayang ya wayang orang atau ketoprak bisa. Tiap bulan satu pertunjukan keliling di tiap kabupaten, pak bupati main, kapolres dan dandim main, kalau saya diundang pasti ikut. Dan anak-anak harus ikut makanya kolosal,” katanya.

Ngunduh wayang dan ketoprak ini diharapkan membuka dimensi baru akan pelestarian kesenian tradisi. Seniman akan dituntut berkreasi mengemas pertunjukan secara kolosal, memasukkan unsur-unsur inovasi modern tapi tidak meninggalkan pakem tradisi.

“Anak-anak yang ikut main akan memiliki pengalaman yang tidak terlupakan sampai mereka dewasa. Wah saya pernah main ketoprak sama pak bupati dan pak gubernur,” katanya.

Pelibatan anak-anak menurut Ganjar wajib karena merekalah yang nanti melestarikan kesenian tradisi. Makanya ia begitu gembira ketika hadir di halaman RRI dan menyaksikan siswa-siswa SD berkarawitan.

Dalam kesempatan itu Ganjar memanggil dua siswa untuk unjuk kebolegan nembang macapat. Majulah Himatul Marwah Taher (12) siswa kelas enam SD Manyaran 3 Semarang yang menembangkan Pocung dan Rafa Indra Waskito (10) siswa kelas lima SD Islam Terpadu Alfirdaus yang melantunkan Dandanggula.

Oleh karena penampilan yang mengundang decak kagum, gubernur pun memberi hadiah tabungan pada keduanya.

Pelestarian kesenian tradisi bukan hanya sebagai tanggung jawab moral pada kekayaaan budaya leluhur, tapi juga erat kaitannya dengan internalisasi nilai-nikai kegamaan dan kebangsaan pada anak-anak. Maka ia berharap cerita yang dibawakan selalu mengandung nilai-nilai agama, ajaran sopan santun, ajakan untuk bersatu dan bergotong-royong, dan mewaspadai bahaya narkoba, hoax dan radikalisme.

“Seperti Ki Enthus itu selalu memasukkan nilai-nilai agama dan cerita persatuan bangsa,” lanjutnya.

Ketua Panitia Hari Wayang Nasional 2017 St Sukirno mengatakan, acara bertema “mencintai wayang bukti nyata bangsa yang berbudaya” ini berlangsung sejak Selasa 7 November lalu. Sebelumnya pada Senin 6 November, panitia dan dalang melakukan ziarah kidung ke makam Ki Nartosabdho di Kompleks Makam Bergota Semarang

Berbagai tangkai acara telah terlaksana. Seperti pergelaran wayang kulit dengan 14 dalang, pentas tari, karawitan, geguritan, hingga seminar wayang. Kemudian juga lomba menggambar wayang dan pameran seni.

“Peringatan Hari Wayang ini melibatkan 14 dalang, 7 kelompok karawitan professional, kelompok karawitan dari 13 SD (sekolah dasar), 1 SMK, dan 4 perguruan tinggi,” katanya.