Baznas Lebih Ampuh Entaskan Kemiskinan

Spread the love

SURAKARTA – Pengelolaan zakat, infaq dan shodaqoh (ZIS) yang dikelola Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) di Jawa Tengah memiliki kekuatan lebih dahsyat untuk program pengentasan kemiskinan. Penurunan angka kemiskinan di Jateng tahun 2018 yang menjadi tertinggi nasional, salah satu faktor pendukungnya adalah dari Baznas.

Hal tersebut disampaikan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo saat memberikan sambutan dalam Rapat Koordinasi Nasional Zakat 2019 di Pendopo Surakarta, Senin (4/3) malam. Dalam acara yang dihadiri Wakil Presiden RI, Muhammad Jusuf Kalla, Menteri Agama Lukman Hakim dan beberapa Gubernur, Bupati/Wali Kota se indonesia itu, Ganjar menceritakan bagaimana optimalisasi zakat di Jawa Tengah.

“Pengelolaan zakat di Jawa Tengah memang kami dorong untuk membantu program pemerintah dalam pengentasan kemiskinan. Sebab kami sadar, jika hanya mengandalkan APBD saja, tidak akan bisa selesai,” kata Ganjar.

Menurut dia, di Jawa Tengah masih ada 3,8 juta masyarakat yang hidup di garis kemiskinan. Pelan namun pasti, melalui sejumlah program termasuk optimalisasi Baznas, angka kemiskinan itu terus dipangkas.

“Maka kalau tahun 2017 Jateng angka kemiskinannya masih 12,23 persen, di tahun 2018 lalu kami berhasil menurunkan di angka 11,19 persen. Angka ini menjadi tertinggi se Indonesia, kira-kira di angka 330.700 jiwa bisa kita atasi,” papar Ganjar.

Selain itu, Baznas juga berperan aktif dalam banyak hal, misalnya program rehabilitasi rumah tidak layak huni, bantuan kebencanaan, pembangunan fasilitas pendidikan agama, bantuan untuk disabilitas dan sebagainya.

“Bahkan saat ini kami sedang mendorong penguatan Baznas pada sektor akses modal bagi masyarakat produktif kurang mampu, pembentukan startup wirausaha, pemberdayan ekonomi perempuan dan sebagainya,” tambahnya.

Ganjar menjelaskan, potensi zakat di Jawa Tengah sangat besar. Kesadaran masyarakat juga semakin tinggi terhadap kewajiban membayarkan zakat. Hal itu terbukti dari penerimaan zakat di Jawa Tengah yang tiap tahun terus meningkat.

“Di tahun 2016 kami berhasil mengumpulkan Rp 8,5 miliar, kemudian di tahu 2017 meningkat menjadi Rp18,2 miliar dan di tahun 2018 lalu menjadi Rp31,7 miliar. Tentu ini merupakan hal positif untuk semakin mempercepat pembangunan di Jawa Tengah,” paparnya.

Dalam kegiatan tersebut, Ganjar mengatakan akan terus mengoptimalkan potensi zakat dan optimalisasi penyerahan kepada penerimanya.

“Mudah-mudahan apa yang diraih kami ini dapat menginspirasi daerah-daerah lain di Indonesia sehingga pengelolaan zakat lebih optimal,” tutupnya.

Dalam kesempatan itu, Wapres Jusuf Kalla mengapresiasi optimalisasi zakat di Indonesia. Apalagi, jumlah penerimaan zakat yang disalurkan melalui Baznas tiap tahun semakin naik.

“Saya mendapat informasi, di tahun 2017 terkumpul dari Baznas sebesar Rp 6,2 triliun dan naik pada 2018 di angka Rp 8 triliun. Peningkatan ini cukup signifikan, meskipun masih bisa dioptimalkan,” kata dia.

Wapres menambahkan, Baznas diminta tidak hanya fokus pada bagaimana optimalisasi penerimaan zakat. Namun menurutnya, hal utama yang haru dilakukan adalah pemanfaatan dari zakat-zakat itu.

“Penyalurannya yang harus dilakukan sebaik mungkin. Sebab ini menyangkut kepercayaan dari masyarakat, khususnya para pemberi zakat,” paparnya.

Selain mengoptimalkan penerimaan zakat dari dalam negeri, Wapres juga meminta agar Baznas menjalin kerjasama dengan Amil Zakat dari luar negeri. Menurutnya, banyak sekali negara dengan penduduk muslim besar di dunia yang ingin bekerjasama.

“Misalnya Qatar, Arab Saudi, Malaysia dan banyak negara lain yang di negaranya sudah makmur, mereka bingung untuk menyalurkan zakatnya. Nah potensi ini juga harus bisa ditangkap oleh Baznas untuk lebih berdayaguna lagi,” tutupnya.